SPEKTRUMONLINE.COM, MASOHI – Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Masohi kembali dipertanyakan. Sejumlah pasien mengeluhkan kosongnya obat bius hingga hampir tiga minggu, sementara bahan tambal gigi di poli gigi disebut tak tersedia selama hampir dua bulan.
Kekosongan obat bius tersebut disebut berdampak langsung terhadap pasien yang membutuhkan tindakan operasi. Sejumlah pasien mengaku tidak dapat menjalani operasi setelah pihak rumah sakit menginformasikan bahwa persediaan obat bius sedang kosong.
Berdasarkan penelusuran dan keterangan yang diperoleh, pasien yang tetap ingin menjalani operasi bahkan disebut harus membeli sendiri obat bius di luar rumah sakit.
Masalah serupa juga muncul di poli gigi. Bahan untuk tindakan tambal gigi disebut kosong selama hampir dua bulan, sehingga pasien yang datang untuk mendapatkan pelayanan terpaksa tidak dapat dilayani. Kondisi itu dialami langsung oleh Ketua LSM Pukat Seram, Fahri Asyathry.
Kepada SPEKTRUMONLINE.COM, Fahri mengaku, sudah dua kali mendatangi poli gigi RSUD Masohi untuk mengecek pelayanan. Namun, dua kali pula pelayanan tersebut batal lantaran bahan tambalan gigi disebut tidak tersedia.
Bagi Fahri, kekosongan obat dan bahan medis dasar tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Apalagi, kondisi tersebut menyangkut kebutuhan pasien yang datang ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Ini kondisi yang sangat memilukan dan memalukan. Kesehatan itu kebutuhan dasar. Bupati paham itu tidak?,” tanya Fahry tegas, Selasa (6/10/2026).
Kata dia, rapat-rapat hingga melakukan sidak-sidak, namun hasilnya semakin parah. Bagaimana mungkin rumah sakit daerah sampai kehabisan obat bius hampir tiga minggu dan bahan tambal gigi kosong hampir dua bulan.
Menurutnya, langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tengah dalam memastikan kebutuhan dasar pelayanan di RSUD Masohi perlu dipertanyakan. Sebab, persoalan tersebut butuh tindakan cepat dan konkret, bukan hanya pernyataan mengenai perhatian pemerintah terhadap sektor kesehatan.
“Masa tak ada langkah dari pemda. Mau alasan tak ada anggaran itu irasional. Kesehatan itu kebutuhan utama. Jangan sampai masyarakat membutuhkan operasi tetapi obat bius kosong, sementara pasien poli gigi datang berulang kali tetapi tidak bisa dilayani karena bahan tambalan kosong,” ujarnya.
Fahri menilai, apabila kondisi kekosongan tersebut benar terjadi sebagaimana dikeluhkan pasien, maka Pemkab Maluku Tengah harus segera mengevaluasi seluruh mata rantai pengelolaan kebutuhan medis di RSUD Masohi.
Mulai dari perencanaan kebutuhan obat, proses pengadaan, distribusi hingga sistem pengawasan stok perlu diperiksa agar kekosongan serupa tidak kembali terjadi.
Fahri juga menyoroti respons pemerintah daerah terhadap persoalan pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut. “Pemda sibuk pencitraan dan konten, namun fakta pelayanan kesehatan justru anjlok itu memalukan sekali. Kok, makin parah kedaan RSUD Masohi dan Bupati tidak bisa ngapa-ngapain selain pamer foto rapat tapi hasilnya nol,” tuturnya.
Fahri mendesak manajemen RSUD Masohi dan Pemkab Maluku Tengah segera memberikan penjelasan mengenai persoalan tersebut, termasuk soal penyebab kekosongan stok obat bius dan bahan tambal di Poli Gigi, sekaligus memastikan ketersediaan kebutuhan tersebut.
Kata dia, persoalan tersebut juga tidak boleh berakhir pada saling lempar tanggung jawab antara pihak rumah sakit dan pemerintah daerah. Sebab, bagi pasien, persoalannya sederhana. Ketika masyarakat datang ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, obat dan bahan medis yang dibutuhkan semestinya tersedia.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD Masohi dan Pemkab Maluku Tengah masih perlu dimintai klarifikasi mengenai kebenaran informasi tersebut, termasuk penyebab kekosongan obat bius dan bahan tambal gigi serta langkah yang telah dilakukan untuk mengatasinya. (RED)

Tinggalkan Balasan