29.1 C
Ambon City
Rabu, 17 April 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Harmony Sudut Kota dan Kegembiraan Hari Pattimura

(Sebuah Refleksi di Hari Pattimura)
Oleh : Prof. Dr. Thomas Pentury

“Kurubela Budak Tegis dan Engeles! Tarima ini, Ale malawang pa Pani-pani..eee !!
bentak seorang pria tinggi besar. Semua tampak hitam di mata Bori, karena gelapnya
malam. Ale musti mati ! Seing ada cengkei galap lai, Kompani rugi tarus deng ale pung
cengkei, mereka menikam perut Kurubela dengan pedang, Kurubela menikam lawannya dengan tombak, darah memancar dari keduanya, Bori mencium bau amis yang tidak pernah dikenalnya, ia terpaku seperti patung batu. Tidak bergerak ! Tidak berteriak ! Tidak menghindar ! dan Tidak mengerti !.

Ini adalah sebaris paragraf dari novel Pemusnahan Pohon Cengkieh yang ditulis oleh
Hana Rambe dengan judul Aimuna dan Sobori. Dalam novel ini ada sepenggal catatan penulis tentang cengkih pada abad ke-15 yang tidak diketahui asalnya, baru pada abad ke-16 ditemukan dan wilayah kepulauan Maluku. Tentu saja Novel dengan judul Aimuna dan Sobori adalah kisah tragis tentang pemusnahan pohon-pohon cengkih yang sesungguhnya menggambarkan bagaimana nilai cengkih pada waktu itu begitu tinggi sehingga harus dikuasai sistem tata niaganya. Adalah VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) sebuah perusahaan dagang yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1602 dan menjadi salah satu perusahaan dagang terbesar dan paling berpengaruh di dunia pada masa itu. Apa lacur sehingga harus ada pemusnahan pohon-pohon cengkih? ternyata sederhana, sistem tata niaga cengkih pada masa itu harus dikuasai oleh VOC, jika tidak, akan berdampak pada kehidupan masyarakat yang memiliki kebun-kebun cengkih.

Hanna Rambe menulis novel ini tatkala beliau berkunjung ke pulau Seram, dengan gaya bahasa yang lugas novelis ini berusaha meyakinkan pembaca memahami alur pikir-nya melalui novel ini. Hanna Rambe adalah sorang novelis misteri yang menyelidiki sejarah dan mengaitkannya dengan persoalan takdir, bahkan karya-karya dijiwai dengan rasa ironi yang kuat (Korrie Layun Rampan-2011). Demikian juga pandangan filsuf Perancis Roland Barthes, yang cenderung melihat bahwa pembaca dapat menciptakan makna dan menafsirkan teks, serta dapat juga menganalisis mekanisme kekuasaan pada saat kejadian. Terlepas dari paragraf awal yang termuat dalam novel itu, pertanyaan-nya kemudian adalah apa hubungan novel ini dengan realitas saat ini?

Apakah karena itu (pemusnahan pohon-pohon cengkih) lalu kita terus ada dalam masa sulit? Saya kira tidak, realitas menunjukkan dan banyak data bertebaran yang meliterasikan tentang kesulitan yang kita hadapi saat ini, tentu tidak hanya dalam bidang ekonomi dan politik, tetapi hampir pada semua aspek kehidupan.

Sekali lagi kita tidak ingin mencari tau apa hubungannya, ternyata memang tidak
mudah untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang relasi itu.

Dalam kewajaran dan kesadaran itu tentunya kita harus ber-kontemplasi, apa yang seemestinya dilakukan oleh kita semua khususnya generasi muda Maluku untuk memahami realitas yang ada. Dalam keheningan ontemplasi dan ditengah suasana memperingati Hari Pahlawan Nasional Pattimura (15 Mei Tahun 2023), mungkin saja kita bisa menemukan dimana relasinya.

Beberapa hari lalu saya dikirimi sebuah flayer oleh seorang teman, isinya bahwa nanti
malam tanggal 15 Mei 2023 akan ada Panggung Seni City Of Music dengan tema Harmoni Sudut Kota. Saya memastikan bahwa generasi muda yang akan ada di depan dan mereka-mereka lah yang memiliki talenta dalam bidang musik. Dalam pandangan yang umum, kita semua orang Maluku dianggap memiliki nilai lebih dalam
bidang seni khususnya musik, itu anggapan umum dan tentu saja membutuhkan verifikasi terkait pandangan ini. Soal kemudian adalah apakah anggapan umum ini mempengaruhi kehidupan kemasyakatan kita ?.

Menurut Friedrich Nietzsche filsuf yang memiliki pandangan luar biasa tentang musik,
dalam bukunya yang berjudul “The Birth of Tragedy” (Kelahiran Tragedi). Ia meyakini
bahwa musik adalah bentuk ekspresi yang paling murni dan mempunyai kekuatan
untuk mengungkapkan kehendak kekuasaan yang paling dalam dari manusia.
Nietzsche cenderung mengaitkan musik dengan konsep Dionysian, yaitu kegembiraan, irasionalitas, dan kebebasan yang melebihi batasan rasionalitas.

Dalam pandangan Nietzsche unsur Dionysian dalam musik seringkali melibatkan kekuatan
emosional yang kuat, ketidak-rasionalan, ekspresi kegembiraan yang liar, dan
perasaan yang menghancurkan batasan rasionalitas. Saya kemudian menjadi
khawatir jangan-jangan kita semua khususnya generasi muda akan mengambil pola pengalaman unsur Dionysian yang dapat saja menjadikan musik sebagai perangsang naluri dan emosi yang paling dalam dalam diri kita dan kemudian kita terhubung dengan aspek yang cenderung primal serta intuitif. Padahal sesungguhnya menurut Nietzsche ada unsur lain yang mungkin saja kontardiktif dengan Dionysian yaitu unsur Apollonian. Unsur ini merujuk pada keindahan, kesederhanaan, dan harmoni yang terstruktur secara rasional.

Menurut Nietzsche seni (seni musik) yang paling kuat adalah seni yang menggabungkan kedua unsur ini secara seimbang, menciptakan
sintesis antara emosi dan keindahan rasionalitas. Sintesis ini tentu tidaklah mudah karena membutuhkan pengetahuan tentang elemen yang akan disintesis dan pemahaman tentang hubungan antara emosi dan keindahan rasionalitas bahkan harus ada pemahaman yang kuat tentang prinsip-prinsip dasar yang terkait dengan elemen yang akan digabungkan. Sintesis membutuhkan langkah-langkah yang rumit, pengujian dan iterasi berulang, serta pengaturan dan pengawasan yang ketat.

Kesabaran dan ketekunan dalam menjalani proses tersebut penting untuk mencapai
hasil yang diinginkan. Berangkat dari pemahaman ini maka harapannya adalah kita
semua bisa ada dalam proses sintesis dimaksud.

Kegembiraan pada acara nasional khususnya pada peringatan Hari Pattimura, dapat
dilihat dari berbagai perspektif, salah satu yang menarik adalah perspektif
Eudaimonia, yang dalam filsafat Yunani kuno merujuk pada kehidupan yang
bermakna, dimana individu menghargai nilai-nilai kepahlawanan, solidaritas sosial,
dan kebahagiaan spiritual. Dalam pandangan Aristoteles, Eudaimonia dapat dicapai
melalui praktik kebajikan (arete) dan kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai
kebajikan. Nilai-nilai itu meliputi Kebajikan Moral (keadilan, keberanian, dan belas
kasih) serta Kebajikan Intelektual (kebijaksanaan dan pengetahuan). Aristoteles
berpendapat bahwa praktik kebajikan dan pengembangan karakter merupakan cara
yang penting untuk mencapai Eudaimonia. Manusia akan mencapai-nya melalui
pemenuhan potensi rasional dan moral mereka, artinya bahwa kegembiraan itu harus
mampu digunakan untuk mengembangkan potensi individu dan kelompok dalam
pencapaian kehidupan yang berdampak pada masyarakat luas. Tentu saja akan
memungkinkan seseorang untuk tumbuh, belajar, berkontribusi pada masyarakat, dan
hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dihayatinya.

Dalam konteks musik, “Harmoni Sudut Kota” dapat dipahami sebagai konsep atau
gagasan tentang cara musik menciptakan keselarasan, kesatuan, atau keseimbangan
di dalam konteks kota atau lingkungan perkotaan. Tentu saja Ini dapat mengacu pada
hubungan harmonis antara elemen musik yang berbeda atau juga dapat
mencerminkan bagaimana musik menggambarkan atau menggambarkan suasana,
kehidupan, atau dinamika kota.

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana elemen musik dapat saling berinteraksi dan
saling melengkapi, menciptakan keselarasan atau keseimbangan yang
menggambarkan suasana kota atau lingkungan perkotaan.
Penggunaan elemen musik yang tepat dan penataan suara yang cermat dapat
menciptakan suasana yang mencerminkan identitas dan karakteristik kota, seperti
kehidupan yang sibuk, keanekaragaman budaya, atau keindahan arsitektur kota.
Dalam perspektif ini, musik dapat menjadi ekspresi artistik yang mencerminkan
harmoni, ketertiban, atau keseimbangan dalam konteks kota.

Namun, penting untuk dicatat bahwa interpretasi “Harmoni Sudut Kota” dalam konteks
musik sangat tergantung pada pendekatan, atau konteks spesifik yang digunakan.
Musik dapat memiliki berbagai makna dan interpretasi tergantung pada subjektivitas
individu atau konteks budaya yang ada.

Gelar “Kota Musik” yang melekat pada Kota Ambon tidak sekedar simbol karena
kekayaan musikal dan kegiatan yang terjadi pada kota tersebut, akan tetapi peran
serta para musikus dalam kehidupan masyarakat kota. Kota Ambon memiliki warisan
budaya yang kaya dan beragam, termasuk dalam bidang musik, yang telah menjadi
bagian dari kehidupan masyarakat kota Ambon dan menjadi bagian integral dari
identitas budaya. Musik telah menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat Kota Ambon. Berbagai kelompok musik, band, dan komunitas musik ada
disini, yang tentu saja berkontribusi menghidupkan suasana musikal dan
mempromosikan keanekaragaman musik.

Pemerintah dan lembaga telah memberikan perhatian dan dukungan terhadap perkembangan industri musik, termasuk fasilitas dan infrastruktur yang mendukung, tetapi tetap saja akan muncul pertanyaan, apakah musik yang dalam perspektif Nietzsche yang cenderung mengaitkan musik dengan konsep Dionysian itu masih kuat menggejala dalam
kehidupan masyarakat kota yaitu kegembiraan yang irasionalitas?, dan kebebasan
yang melebihi batasan rasionalitas? Semoga pandangan Nietzsche ini tidak
menggejala pada masyarakat kota yang berkecenderungan melibatkan kekuatan
emosional yang kuat, ketidak-rasionalan, ekspresi kegembiraan yang liar, dan
perasaan yang menghancurkan batasan rasionalitas….Semoga

Selamat Hari Pattimura 2023.

Berita Terkait

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles