SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Besarnya investasi proyek strategis nasional Liquefied Natural Gas (LNG) Blok Masela harus diikuti kesiapan tenaga kerja lokal agar anak Maluku tidak kehilangan peluang kerja di daerah sendiri.

DPRD Provinsi Maluku mendesak pemerintah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) sejak dini, mulai dari pelatihan keterampilan hingga pemetaan kompetensi sesuai kebutuhan industri.

Ketua Komisi IV DPRD Maluku, Saoda Tethool mengaku, pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Maluku pada Rabu, (16/10/2026) kemarin. Rapat membahas peluang SDM lokal dalam penyerapan tenaga kerja untuk proyek LGN Blok Masela.

Saoda menilai, Balai Latihan Kerja (BLK) harus dimaksimalkan untuk meningkatkan keterampilan calon tenaga kerja lokal agar mampu memenuhi kualifikasi pekerjaan yang tersedia dalam proyek tersebut.

“Kan kita punya BLK untuk memberikan pelatihan vokasi atau keterampilan dalam rangka meningkatkan kompetensi bagi tenaga kerja lokal agar mereka bisa dipekerjakan di Blok Masela,” ujar Saoda kepada wartawan, Kamis ((17/10/2026).

Menurutnya, penyiapan tenaga kerja tidak boleh dilakukan secara mendadak. Pemerintah perlu memastikan SDM lokal memiliki kompetensi yang sesuai sehingga kesempatan kerja dari proyek berskala nasional itu dapat dimanfaatkan masyarakat Maluku.

Saoda menyebutkan, kuota tenaga kerja yang diberikan dari pusat sebesar 11 persen melalui PT Petrosea, yang memperoleh kontrak pembangunan fasilitas Onshore LNG Perimeter melalui konsorsium.

Di sisi lain, Peraturan Daerah (Perda) untuk memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja lokal masih dalam proses penyusunan. DPRD mendorong adanya pengaturan yang memperkuat keterlibatan pekerja lokal dalam berbagai investasi di Maluku.

“Tenaga kerja lokal itu harus 70 persen untuk setiap investasi yang ada di Provinsi Maluku,” ungkapnya.

Selain memperjuangkan peluang kerja, Komisi IV juga menyoroti dukungan anggaran untuk meningkatkan kapasitas SDM. Ia menegaskan, target penyerapan tenaga kerja lokal akan sulit diwujudkan apabila tidak diimbangi program pelatihan dan anggaran yang memadai.

Karena itu, pendataan dan pemetaan keterampilan calon tenaga kerja harus menjadi langkah awal. Hasil pemetaan tersebut nantinya menjadi dasar untuk menentukan jenis pelatihan sesuai kebutuhan setiap posisi pekerjaan yang tersedia.

“SDM kita harus didata dulu, kemudian dilakukan pemetaan terkait keterampilan atau keahlian, supaya disesuaikan dengan kebutuhan yang pada masing-masing job yang tersedia,” katanya.

Saoda juga mengingatkan bahwa keterampilan teknis bukan satu-satunya modal untuk masuk ke dunia kerja. Etos kerja harus menjadi perhatian agar tenaga kerja lokal mampu memenuhi tuntutan dan disiplin kerja di sektor industri.

“Jangan sampai ingin bekerja, tapi etos kerjanya minim,” cetusnya. (RED)