SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Potensi energi terbarukan Maluku yang besar belum akan memberikan manfaat optimal tanpa dukungan tenaga terampil di daerah. Kerja sama Politeknik Negeri Ambon (Polnam) dengan Selandia Baru diarahkan untuk menjawab kebutuhan tersebut, sekaligus memperkuat kapasitas pendidikan vokasi di bidang energi.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kunjungan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, H.E. Phillip Taula, bersama Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, di kampus Polnam, Senin (14/9/2025).
Kunjungan tersebut dirangkai dengan Kick-Off Ceremony pembangunan Laboratorium Tenaga Surya dan Mikrohidro. Fasilitas ini diharapkan menjadi pusat praktik mahasiswa sekaligus ruang pengembangan kompetensi tenaga kerja energi terbarukan di Maluku.
Plh. Direktur Polnam, Lory Marcus Parera, mengatakan pembangunan laboratorium bukan sekadar penambahan fasilitas pendidikan, tetapi bagian dari upaya menyiapkan SDM yang mampu menjawab kebutuhan energi terbarukan di Maluku dan Indonesia Timur.
Kerja sama dengan Selandia Baru, menurut Lory, telah berlangsung sejak 2019 dan memberikan manfaat bagi pengembangan institusi serta peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan.
Melalui kerja sama itu, dosen dan tenaga kependidikan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan energi terbarukan, khususnya teknologi mikrohidro dan pembangkit energi lainnya.
“Dengan begitu Politeknik Negeri Ambon semakin melihat besarnya potensi energi terbarukan sekaligus kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kompetensi di bidang tersebut,” ujar Lory.
Penguatan kerja sama tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembukaan program studi baru berorientasi energi terbarukan. Tahun 2026 menjadi tahun pertama program studi itu menerima mahasiswa.
“Pembukaan program studi ini merupakan bagian dari langkah kami dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab berbagai tantangan di bidang energi,” terangnya.
Bagi Polnam, pembangunan laboratorium tenaga surya dan mikrohidro menjadi bagian penting dalam mempertemukan kebutuhan industri energi dengan pendidikan vokasi.
“Kami berharap fasilitas tersebut bisa memperkuat praktik mahasiswa, meningkatkan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan, serta membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan pemerintah, dunia industri, dan mitra internasional,” tandasnya.
Lory juga berharap, kerja sama Polnam dan Selandia Baru tidak berhenti pada pembangunan laboratorium, tetapi berkembang menjadi investasi jangka panjang untuk menyiapkan tenaga ahli yang mampu mengelola potensi energi Maluku dan memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Sementara itu, Direktur Jenderal EBTKE, Prof. Dr. Eniya Listiani Dewi menegaskan pengembangan energi terbarukan tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi. Ketersediaan SDM yang mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologi tersebut juga menjadi bagian penting.

“Pemerintah saat ini terus mendorong pemanfaatan sumber energi lokal, terutama di wilayah Indonesia Timur yang memiliki tantangan geografis dan biaya penyediaan listrik yang relatif tinggi,” ujar Eniya.
Dia menyebut Maluku memiliki potensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) maupun panas bumi. Potensi tersebut dapat menjadi salah satu jawaban atas persoalan akses listrik di sejumlah wilayah terpencil dan kepulauan.
Namun, pengembangan energi terbarukan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk melalui keterlibatan tenaga kerja lokal dalam pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit.
“Pengembangan energi terbarukan di wilayah terpencil juga harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat. Tidak hanya dalam bentuk listrik, tetapi juga melalui keterlibatan tenaga kerja lokal dalam pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit,” katanya.
Karena itu, Eniya berharap Polnam mampu melahirkan tenaga terampil yang tidak hanya mengoperasikan pembangkit, tetapi juga memasang, memelihara, dan mengembangkan sistem energi terbarukan.
“Harapan kami nanti dari Poltek Ambon ini bisa melahirkan tenaga-tenaga yang mempunyai skill lebih untuk bisa memelihara, bahkan mendirikan PLTS dan mengoperasikan,” ungkapnya.
Dilain sisi, Eniya menekankan program peningkatan kapasitas tidak boleh berhenti setelah pelatihan selesai. Pendidikan dan pengembangan kompetensi harus berlangsung secara berkelanjutan agar tenaga yang telah dilatih mampu mengikuti perkembangan teknologi.
“Pendidikan dan pengembangan kompetensi harus berlangsung secara berkelanjutan agar tenaga yang telah dilatih tetap dapat mengikuti perkembangan teknologi,” tutur dia.
Selain tenaga surya, Eniya juga menyoroti peluang pemanfaatan panas bumi untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Potensi ini tidak hanya dapat menghasilkan listrik, tetapi juga mendukung pengolahan komoditas lokal.
“Panas bumi, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk proses pengeringan berbagai komoditas seperti kopi, teh maupun rempah-rempah tanpa bergantung sepenuhnya pada kondisi cuaca,” jelas Eniya. (RED)

Tinggalkan Balasan