Ia mengatakan,  sidang ini juga untuk menetapkan program pelayanan , anggaran dan  pendapatan  belanja 2021 serta menetapkan dokumen Renstra Jemaat GPM Bethania 2021-2025.

“Dokumen Renstra ini menjadi penting sebagai acuan untuk kita dapat merumuskan program-program strategis selama lima tahun yang akan datang,” tandasnya.

Hal lainnya tambah Purmiasa,  sidang jemaat memiliki kedudukan sebagai forum pengambilan keputusan untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai kebutuhan jemaat termasuk didalamnya persoalan pandemi Covid-19. Olehnya, pelaksanaan sidang ke-39 ini dengan mengutamakan protokol kesehatan. Sebagai gereja, bersama pemerintah terus berupaya untuk memutuskan mata rantai Covid-19 ini,” pungkasnya.

Sedangkan Ketua Panitia Persidangan  ke-39 jemaat GPM Bethania, Piet Saimima mengaku,  pihaknya tetap patuh kepada protokol kesehatan. Bukan sebatas menjaga jarak, memakai masker dan cuci tangan tetapi panitia bersama pimpinan jemaat mengharapkan peserta sidang bersama pendukungnya harus melaksanakan tes cepat Antigen.

Saimima menjelaskan,  pihaknya sebelum bersidang telah melaksanakan tes cepat Antigen. Sebanyak 166 orang di tes cepat Antigen dan satu orang dinyatakan reaktif telah ditangani tim medis lebih lanjut.

“Jadi hari ini (Minggu Red), peserta sidang berjumlah 165 orang semuanya sudah rapid dan negatif. Hanya satu orang dari jumlah yang di-rapid itu reaktif. Kepada yang bersangkutan sudah diisolasi dan ditangani tim medis,” beber Saimima.

Untuk diketahui, persidangan ke-35 Jemaat Bethania Ambon dilaksanakan dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan. Sebelum bersidang ibadah dipimpin  Pendeta John Ruhulessin. Setelah itu diawali dengan laporan Ketua Panitia, Piet Saimima, pidato Ketua Majelis Jemaat, Pendeta Hendry Purmiasa dan sambutan sekaligus membuka secara resmi yang ditandai dengan pemukulan “toleng-toleng” oleh Ketua Majelis Pekerja Klasis Kota Ambon, Pendeta Nick Rutumalessy. (HS-19)