Lulusan Unpatti, kata Rektor sudah banyak berkontribusi di berbagai bidang, tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Hanya saja, belum semuanya terdata di almamater karena alumni seringkali tidak berkomunikasi lagi dengan kampus yang telah memberinya “air susu”.
Ia menyampaikan pengalamannya ketika Ketua Umum Alumni Unpatti (IKAPATTI), Zeth Sahubarua mengundang alumni bermusyawarah, ketika itu hanya satu orang yang hadir memenuhi undangan tersebut yang membuatnya sangat prihatin dan mempertanyakan rasa memiliki kampus Unpatti yang dipunyai para alumni.
“Karena ada pengalaman yang Pak Ety (Zeth Sahubarua) pernah buat, sebelum beliau menjadi wakil gubernur, beliau mengundang, (alumni) diminta untuk hadir mengikuti pertemuan, yang hadir hanya 1 orang. Saya juga prihatin,” ungkapnya.

Unpatti, kata Rektor, sedang membenahi seluruh kurikulum pendidikan agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif. Termasuk juga memiliki sertifikasi berbagai keahlian agar cepat terserap di bursa tenaga kerja.
“Kami sementara benahi kurikulum agar alumni kita bisa bekerja di mana saja dan pengetahuan mereka komprehensif tentang berbagai hal,” tandasnya.
Ia sepakat dengan pendapat Presiden RI, Joko Widodo yang menyebutkan bahwa program studi-program studi di fakultas ekonomi saat ini tidak relevan lagi dengan perkembangan dan kebutuhan zaman. Pembukaan program studi yang mendalami tentang Hoax atau Covid-19 misalnya, lebih menjawab kebutuhan pasar kerja dan dapat menyelesaikan tingginya angka pengangguran terdidik agar tidak menjadi beban masyarakat dan menimbulkan masalah sosial.

“ Itu bukan basa basi tapi mencari dan menemukan program studi program studi yang nanti ketika mereka lulus, mereka langsung bisa bekerja dan bisa mandiri. Intinya itu. kalau tidak, menjadi beban masyarakat,” ujarnya.
Ia juga meminta agar para lulusan Unpatti tidak hanya menunggu pembukaan lowongan menjadi pegawai negeri sipil, tentara atau polisi, atau menjadi pegawai bank sampai melampaui batas usia, baru mengejar ketertinggalan, waktu terbuang percuma.
“Yang terjadi saat ini, kami sudah arahkan tetapi mereka semua menunggu nanti ada tes di bank, tes tentara atau polisi, tes CPNS baru mereka berlomba-lomba, sampai sudah melampaui batas usia. Padahal sekarang sudah berubah,” terangnya. (HS.17).
