SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Pemuda Katolik Komcab Kepulauan Tanimbar mengutuk tindak intoleransi yang diduga dilakukan oleh Wakil Ketua DPRD KKT dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Reza Fordatkosu.
Hal tersebut disampaikan salah satu karateker Pemuda Katolik KKT, Bolly Refwalu, Sabtu (11/10/2025).
Refwalu mengatakan, sesungguhnya tindakan ini berkepanjangan, karena Pimpinan PKS KKT tidak membuka ruang komunikasi sejak awal.
“Bagi kami, Presiden PKS KKT lah yang tidak bijaksana dalam mengelola persoalan ini sejak awal,”ujar Refwalu.
Bagi dia, proses kaderisasi harus berjalan maksimal yakni menghadirkan aktor-aktor politik profesional dan punya idealisme kuat.
Jika proses kaderisasi ini lemah, maka korupsi dan hal-hal negatif lainnya akan muncul di ruang-ruang demokrasi seperti hari ini sehingga rakyat semakin kecewa terhadap PKS.
“Ingat baik-baik bahwa PKS memperoleh suara terbanyak di wilayah Katolik, apalagi presiden partainya adalah kader Katolik, harusnya penghargaan terhadap kebebasan beribadah dijunjung tinggi,”tegasnya.
Menurutnya, ini akibat proses kaderisasi yang lemah dan pendidikan politik rendah sehingga wakil “berkualitas” yang dipilih partai seolah-olah ‘taken for granted’ dan sekedar memenuhi aspek prosedural namun kering substansial.
Hal ini yang kemudian memunculkan realisasi program jauh dari harapan rakyat, sehingga rakyat semakin kecewa bukan hanya terhadap perwakilan tersebut melainkan juga pada partainya.
“Idealnya partai harus menghadirkan perwakilan berkualitas yang selaras dengan animo serta harapan rakyat di akar rumput,”katanya.
Refwalu menyebut, apa yang dilakukan kader PKS KKT itu adalah bentuk fanatisme buta yang melampaui batas, demi mendapatkan simpati masyarakat desa Latdalam.
“Ini bukan saja offside, tapi sudah menimbulkan kegaduhan di masyarakat bawah. Apalagi kita selama ini sudah punya rambu-rambu terkait materi yang menyangkut isu sara.
“Komika yang jelas-jelas niatnya melawak, tapi dipidana. Apalagi politisi,”ujar Refwalu.
Sebagai kader Pemuda Katolik, pihaknya mengaku kecewa terhadap Presiden dan Jajaran Pengurus PKS KKT karena lemahnya kontrol partai atas anggotanya, apalagi yang duduk sebagai wakil rakyat.
Pernyataan Presiden PKS KKT terlihat mengambang, tak tegas dan terkesan basa-basi. Harusnya Presiden dan Pimpinan PKS langsung memberikan sangsi skorsing atau pemberhentian sementara atau paling tidak ada teguran lisan atau tertulis kepada yang bersangkutan sambil menunggu proses lanjut partai.
“Ini basa-basi, siapkah beliau (Presiden PKS-red) bagaimana jika dalam waktu 3×24 proses yang beliau maksudkan itu tak selesai?. Apa yang mau beliau garansi kan?,”tanya Refwalu.
Di sisi lain, kader Pemuda Katolik Komcab KKT ini juga mengecam sikap diam Pemda KKT seolah-olah membiarkan persoalan ini. Pihaknya mendesak aparatur negara segera melakukan proses penegakan hukum atas tindakan yang dilakukan oleh mereka yang intoleran.
Khususnya pemerintah daerah KKT untuk tidak permisif dan mensimplifikasi persoalan intoleransi sebagai tindakan yang dipicu kesalahpahaman.
Refwalu mengajak seluruh elemen pemuda Katolik Komcab Kepulauan Tanimbar agar bersiap melakukan aksi solidaritas bersama umat Katolik yang akan kembali pertanyakan tuntutan mereka.
“Ini bukan hanya menyakitkan, ini berbahaya. Perilaku intoleran adalah racun yang menggerogoti keutuhan bumi duan lolat. Karenanya Pemda KKT harus hadir untuk menggaransi hak konstitusi setiap warga negara dan kelompok identitas untuk merayakan keberagamannya, termasuk menjalankan ibadahnya,”ungkapnya. (RED)

