Menurut Lusi, lagu seperti ini adalah satu pemicu munculnya kasus-kasus pemerkosaan, kemudian menciptakan perilaku victim blaming yang masih sangat sulit dihilangkan. Korban selalu disalahkan, mengapa sudah malam masih ada di jalan sehingga akhirnya diperkosa.

“Tidak hanya itu. Dampak dari lagu itu bisa berakibat reviktimisasi, luka hati korban terkorek lagi dan itu mengganggu pemulihan korban bahkan bisa terjadi pembunuhan karakter,” tambahnya mempertegas.
Ia sangat kuatir dengan korban perkosaan yang sudah mulai survive dan membangun hidup dengam susah payah mengumpulkan puing-puing harapan yang sempat hancur. Ketika sudah mulai settle dan hidup tenang, tiba-tiba muncul lagu itu.
Kata-kata seperti “ Itu, bajalang sampe tengah malam, makanya diperkosa”. Atau “Kaweng deng orang bakas dosa”, kerap dilontarkan yang mempengaruhi psikis korban bahkan dapat mendorong korban melakukan bunuh diri dan tindakan lainnya.
Beberapa saat setelah protes bermunculan di facebook, Emola mengubah settingan tayangan videonya menjadi private, sehingga tidak bisa lagi diakses. Namun, Emola kemudian membuat live streaming video klarifikasi, yang intinya mengatakan bahwa tidak ada yang salah dari lagunya yang merupakan karya seni atas dasar kebebasan berekspresi.
Tentang hal ini, Lusi menyayangkan dangkalnya nurani seorang seniman bernama Emola. Ia membandingkan banyak lagu Ambon yang jelas-jelas menyoal peran sosial laki-laki perempuan, semacam lagu “Om Maku dan Usi Engge” dan lagu “Oya”. Karya-karya itu menghibur tapi tetap sopan.
“ Bukan seperti Ale Itu Lonte. Dia (Emola) malah membandingkan karyanya itu dengan lagu musisi Iwan Fals berjudul Lonteku. Bagaimana mungkin dibandingkan seperti itu? Coba dalami lirik lagu Iwan Fals. Jauh berbeda” ujarnya.
