SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Bentrok antar kelompok warga di Kabupaten Maluku Tebggara (Malra) kembali terjadi pada Jumat (26/3/2026) malam. Insiden itu berlangsung hingga Sabtu (27/3/2026) dinihari, tadi.

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi mengakui, bentrokan itu terjadi di Desa Danar, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan. Insiden yang melibatkan dua kelompok pemuda itu menewaskan seorang warga, yakni FAR (25).

Sebanyak enam orang juga dikabarkan mengalami luka-luka, tiga diantaranya adalah aparat kepolisian, yakni Wakapolres Malra Kompol. Djufri Jawa, Kasatreskrim Polres Malra AKP Barry Talabessy, dan personel Satsamapta Polres Malra, Bripda Siswanto Sofyan.

Sedangkan tiga warga lainnya berinisial FFH (22), MMS (17), dan AAR (37). Tak hanya itu, tiga unit rumah dan satu unit sepeda motor milik warga juga ikut terbakar.

Kata Rositah, aparat kepolisian dibawah komando Kapolres Malra, AkBP Rian Suhendi telah mengambil langkah cepat dan terukur untuk meredam situasi di wilayah tersebut.

“Personel Polres Malra dan dibantu satuan Brimob telah melakukan upaya penanganan cepat, sehingga situasi telah berangsur kondusif,” ujar Kobespol Rositah, Sabtu (27/3/2026).

Dia menjelaskan, insiden itu bermula dari kesalahpahaman antar p3muda, sehingga memicu adanya konsentrasi massa hingga bakulempar antar kelompok warga.

Aparat kepolisian yang hadir du tempat kejadian sempat meredam situasi. Meski begitu, insiden kembali terjadi pada Sabtu dinihari hingga menyebabkan bentrokan lanjutan.

“Situasi saat ini berhasil dikendalikan oleh aparat kepolisian Polres Malra bersama personel Brimob Yon C Pelopor, dan telah dilakukan penyekatan antar dua kelompok yang bertikai,” jelasnya.

Hingga saat ini, lanjut Rositah, aparat kepolisian masih terus melakukan pengamanan di tempat kejadian perkara (TKP) dan melakukan pendalaman lebih lanjut untuk memastikan sitiasinya betul-betul aman dan kondusif.

Dia menegaskan, Polri tetap mengedepankan upaya persuasif, penegakkan hukum secara profesional, serta melakukan koirdinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah tersebut.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk menahan diri dan tidak mudah terprovokasi, dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada aparat keamanan dalam melakukan upaya rekonsiliasi serta upaya pemulihan,” ungkap Rositah. (RED)