SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Riuh tabuhan tifa dan lentiknya gerakan tari tradisional Maluku seketika menyihir suasana di Taman Budaya (Karpan), Kota Ambon, pada Selasa (14/7/2026).
Ratusan generasi muda dan mahasiswa memadati lokasi tersebut untuk menghadiri momentum penting pelurusan sejarah dunia: menghidupkan kembali kisah Enrique Maluku, sang pengeliling bumi pertama yang sebenarnya.
Melalui acara bedah buku dan pergelaran seni budaya bertajuk “Enrique Maluku: Menguatkan Semangat Kebangsaan Melalui Bedah Buku dan Pergelaran Seni Budaya Maluku”, sejarah dunia diletakkan kembali pada tempatnya yang jujur.
Buku yang dibedah merupakan karya Helmy Yahya dan Reinhard Tawas yang sukses mengupas tuntas rekam jejak bahwa pengeliling bumi pertama secara faktual bukanlah orang Eropa, melainkan seorang putra asli Maluku.
*Patahkan Klaim Asing dengan Dokumen Klasik 1523
Selama ini, terdapat klaim dari sejarawan asing seperti Carlos Quirino yang menyebut Enrique berasal dari Cebu, Filipina. Namun, klaim tersebut berhasil dipatahkan secara telak oleh dokumen primer klasik global yang dibahas dalam diskusi ilmiah ini.
Bukti terkuat ditemukan dalam buku De Moluccis Insulis (1523) karya Maximilianus Transylvanus. Berdasarkan naskah aslinya pada halaman 26, tertulis jelas:
“Magellan memiliki seorang budak yang berasal dari Kepulauan Maluku, yang sebelumnya ia beli di Malaka.”
Kutipan autentik ini memberikan legitimasi mutlak bahwa tokoh utama dari pelayaran besar global tersebut adalah anak Maluku asli. Akademisi Dr. M. Jen Latuconsina menilai nama besar Enrique sudah sepantasnya disejajarkan dengan penjelajah dunia lain seperti Columbus dan Marco Polo.
*Diplomat Maritim Ulung di Era Kejayaan Rempah
Peneliti Sejarah Mezack Wakim menegaskan bahwa Enrique merupakan seorang diplomat maritim ulung yang berhasil mengangkat nama Maluku ke panggung peradaban. Sebagai juru bahasa Melayu di atas kapal ekspedisi milik Kerajaan Spanyolbtermasuk kapal Trinidad dan Victoria peran Enrique sangat krusial.
Ia mendampingi penjelajah ternama Ferdinand Magellan dan juru tulis Antonio Pigafetta untuk menjembatani komunikasi antara pelaut Eropa dengan masyarakat di Nusantara. Keberadaannya membuktikan bahwa sebelum kejayaan cengkih di Amboina dan pala di Banda Naira runtuh, Maluku telah mampu memposisikan diri sebagai pusat ekosistem perdagangan dunia.
*Sentilan Politik RUU Kepulauan dan Hidupnya Memori Lewat Seni
Di sela-sela agenda ilmiah, aspirasi politik terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Kepulauan turut disuarakan dengan lantang. Para pemateri menilai regulasi ini sangat dibutuhkan oleh daerah berbasis maritim seperti Maluku yang secara historis memiliki andil besar bagi dunia namun sering kali dianaktirikan dalam pemerataan pembangunan.
Kritik tajam tersebut dipadukan secara apik dengan pertunjukan seni budaya oleh Sanggar Seni Tamariska. Mereka membawakan lagu bernuansa adat seperti “Toma-toma”, “Pohon Sagu”, hingga “Lompat Gaba-gaba” serta tarian tifa yang dinamis untuk menegaskan bahwa ingatan kolektif akan kejayaan maritim tidak boleh hilang dari generasi muda.
*Mendorong Enrique Maluku Masuk Kurikulum Sekolah
Sebagai langkah konkret ke depan, Ketua LSM Inspirasi Anak Muda Maluku, Venesia Lesnussa, mendesak agar karya literasi sejarah Enrique Maluku segera dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah se-Provinsi Maluku.
Langkah ini diharapkan dapat memproduksi penulisan sejarah yang menempatkan putra daerah sebagai subjek utama, bukan sekadar objek dari narasi kolonial. Upaya ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk bersama-sama mengembalikan kejayaan maritim Maluku ke episentrum peradaban dunia. (S-04)

Tinggalkan Balasan