SPEKTRUMONLINE.COM, TUAL – Situasi keamanan di Kota Tual, Maluku, kembali mencekam setelah bentrokan antar warga Desa Fidatan Lama dan Desa Fidatan Baru, Kecamatan Pulau Dullah Utara, pecah pada Selasa (24/2/2026).
Situasi kian memanas, Kapolres Tual, AKBP Whansi Des Asmoro pun menjadi korban. Ia terkena anak panah saat terjun langsung melakukan penyekatan dan pebubaran massa yang bertikai.
Bentrokan mencapai puncaknya pada Selasa sore sekitar pukul 17.30 WIT. Massa yang bertikai saling serang menggunakan bom molotov dan panah. Situasi pun menjadi tidak terkendali.
Kapolres Tual dilaporkan terkena anak panah tepat di bagian kaki kiri saat berada di garis depan untuk menghalau pergerakan warga.
“Iya, betul Kapolres kena panah di kaki kiri sekitar pukul 17.30 WIT. Saat itu beliau bersama anggota berusaha menghalau massa,” ungkap Kasubsi PID Humas Polres Tual, Aipda Husinjaya Korwaka saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (24/2/2026).
Kapolres telah dievakuasi ke RSUD Maren Kota Tual untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Kondisinya dilaporkan stabil, namun luka akibat panah waer memerlukan tindakan bedah untuk memastikan tidak ada infeksi dari sisa material panah.
Eskalasi Konflik Sejak Akhir Pekan
Ketegangan di wilayah Fidatan ini sebenarnya telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut: Minggu (22/2), Gesekan awal mulai terjadi antar kelompok warga.
Senin (23/2/2026): Konflik meluas hingga menyasar fasilitas publik. Puskesmas Fidatan dilaporkan mengalami kerusakan akibat lemparan bom molotov. Selasa (24/2/2026): Bentrokan kembali pecah dengan intensitas lebih tinggi hingga melukai aparat keamanan. Hingga Selasa malam, situasi di perbatasan kedua desa dilaporkan masih sangat tegang.
Meskipun mediasi telah diupayakan oleh Ketua DPRD Kota Tual, Aisyah Renhoat pada Senin malam, namun ketegangan tetap saja ada. Kedua massa bertikai masih bersiaga. Hal itu dikarenakan belum menyentuh pada akar persoalan. Provokasi di media sosial disinyalir menjadi pemicu utama yang membuat massa sulit berdamai.
Pihak kepolisian kini telah menyiagakan personel tambahan di titik-titik rawan untuk mencegah eskalasi susulan dan mencari dalang di balik provokasi bentrokan tersebut. Fokus utama saat ini adalah memulihkan ketertiban dan memastikan keamanan bagi warga sipil lainnya yang terdampak.
Informasi yang dihimpun, terdapat warga yang terjebak ditengah konflik mengungkapkan ketakutan mereka. Suara ledakan bom molotov dan desingan anak panah (panah waer) terdengar bersahutan sejak sore hingga malam hari. Selain Puskesmas Fidatan yang menjadi sasaran, beberapa kios warga juga dilaporkan rusak akibat lemparan batu.
Warga tak bisa keluar rumah lantaran kobaran api di mana-mana akibat ledakan bom molotov, dan anak panah menyasar tak tentu arah.
“Kami takut keluar rumah. Pak Kapolres saja bisa kena panah, apalagi kami warga biasa,”ujar salah seorang warga Desa Fidatan Lama.
Intensitas konflik yang sudah tidak bisa lagi ditangani dengan pendekatan kepolisian standar (Polres) karena indikasi adanya penggunaan senjata rakitan dan bom molotov yang masif menunjukkan perlunya penguatan personel dari satuan Brimob Polda Maluku untuk melakukan lokalisir wilayah. (RED)

