SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Pemerintah Kabupaten Buru Selatan (Bursel) memasuki tahap krusial dalam persiapan proyek hilirisasi ubi kayu. Meski tingkat kesiapan telah mencapai sekitar 75 persen, kepastian lahan masih menjadi pekerjaan utama yang harus dituntaskan sebelum investasi dapat direalisasikan.

Bupati Buru Selatan, La Hamidi, mengatakan pemerintah daerah terus mempercepat penyelesaian seluruh persyaratan agar proyek strategis tersebut segera memasuki tahap pelaksanaan.

Selama lima bulan terakhir, Pemkab Bursel intensif membangun koordinasi dengan Kementerian Pertanian, PTPN, PT Agrinas, Bappenas, serta Pemerintah Provinsi Maluku untuk menyelaraskan seluruh tahapan perencanaan.

Pernyataan itu disampaikan La Hamidi dalam Rapat Koordinasi Hilirisasi Ubi Kayu Kabupaten Buru Selatan di Kantor Gubernur Maluku, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, kepastian lahan menjadi faktor paling penting karena akan menentukan kelancaran investasi sekaligus memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak yang terlibat.

“Salah satu fokus utama yang kini diselesaikan adalah kepastian lahan, sesuai arahan Kementerian Pertanian agar investasi dapat berjalan tanpa kendala di kemudian hari,” kata La Hamidi.

Ia menegaskan, proyek hilirisasi ubi kayu merupakan bagian dari upaya besar Pemerintah Provinsi Maluku dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

“Ini merupakan gagasan besar Bapak Gubernur Maluku untuk membangun ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian daerah. Pemerintah Kabupaten Bursel mendukung penuh kebijakan tersebut. Saat ini kesiapan kami telah mencapai sekitar 75 persen dan akan terus dimantapkan hingga seluruh persyaratan terpenuhi, khususnya terkait kepastian lahan sebagaimana menjadi arahan Kementerian Pertanian,” ujarnya.

La Hamidi optimistis proyek tersebut dapat segera direalisasikan apabila seluruh persyaratan terpenuhi. Menurutnya, hilirisasi ubi kayu tidak hanya akan memperkuat sektor pertanian, tetapi juga membuka peluang investasi baru, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

“Kami berharap program ini tidak hanya meningkatkan produktivitas sektor pertanian, tetapi juga membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja baru, serta memberi nilai tambah bagi komoditas unggulan daerah,” tandasnya. (RED)