SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku tidak hanya membidik peningkatan produksi pertanian melalui program hilirisasi ubi kayu di Kabupaten Buru Selatan (Bursel). Proyek strategis tersebut juga diproyeksikan mampu menciptakan puluhan ribu lapangan kerja sekaligus menarik investasi baru di sektor pertanian.
Untuk mempercepat realisasi program itu, Pemprov Maluku kini memfokuskan penyelesaian berbagai persiapan, terutama memastikan status lahan yang akan digunakan benar-benar bebas dari sengketa.
Komitmen tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Hilirisasi Ubi Kayu Kabupaten Buru Selatan yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku, Sadali Ie, di Kantor Gubernur Maluku, Senin (3/8/2026).
Rapat itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan Gubernur Maluku bersama Menteri Pertanian dan Bupati Buru Selatan terkait percepatan pengembangan kawasan hilirisasi ubi kayu.
Menurut Sadali, evaluasi difokuskan pada kesiapan Pemerintah Kabupaten Buru Selatan dalam mendukung masuknya investasi, mulai dari ketersediaan lahan, dukungan masyarakat hingga kesiapan petani.
“Kita ingin memastikan persiapan berjalan dengan baik. Yang paling penting adalah lahan harus benar-benar clear and clean agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Kepastian lahan jadi faktor utama guna memberikan rasa aman bagi investor dan mempercepat realisasi program hilirisasi ubi kayu di Buru Selatan,” ungkap Sadali.
Ia menegaskan, pengalaman sengketa lahan di sejumlah wilayah Maluku tidak boleh kembali terjadi karena dapat menghambat investasi dan memperlambat pembangunan sektor pertanian.
Karena itu, Pemprov Maluku mendorong seluruh pemangku kepentingan membangun sinergi agar iklim investasi tetap kondusif dan proyek dapat berjalan sesuai target.
Sadali menjelaskan, Maluku memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas ubi kayu. Saat ini luas panen mencapai sekitar 1.875 hektare dengan produksi mencapai 42.027 ton. Potensi tersebut dinilai perlu ditingkatkan melalui pembangunan industri pengolahan agar memberikan nilai tambah bagi petani.
“Program ini bukan hanya bicara soal pertanian saja, tetapi juga tentang peningkatan pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika kebutuhan lahan mencapai 12 ribu hektare, maka akan tercipta puluhan ribu lapangan pekerjaan, belum termasuk dampak ganda ketika industri pengolahannya mulai beroperasi,” tutur Sadali.
Ia optimistis, hilirisasi ubi kayu akan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi baru di Maluku apabila seluruh tahapan persiapan dapat diselesaikan sesuai rencana.
“Kami berharap, proyek hilirisasi ubi kayu itu tidak hanya meningkatkan produksi pertanian, namun juga menjadi penggerak investasi, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat ketahanan pangan sekaligus pertumbuhan ekonomi di Maluku,” tambah Sadali. (RED)

Tinggalkan Balasan