SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Pemerintah Provinsi Maluku mulai mendorong perubahan pola ekonomi daerah dari sekadar menjual komoditas mentah menuju pengolahan yang menghasilkan nilai tambah.

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa pada sidang paripurna DPRD Maluku dalam rangka HUT ke-81 Provinsi Maluku, Rabu (19/8/2026) kemarin mengatakan, hilirisasi menjadi salah satu strategi penting agar kekayaan alam Maluku tidak hanya menghasilkan produksi, tetapi juga membuka industri dan lapangan kerja di daerah.

Dia menyebut sejumlah proyek hilirisasi mulai berjalan. Hilirisasi kelapa dan pala di Maluku Tengah telah memasuki tahap ground breaking. Nilai investasi pengolahan kelapa mencapai sekitar Rp500 miliar, sedangkan pengolahan pala sekitar Rp140 miliar.

Selain itu, pengembangan ayam petelur terintegrasi di Maluku Tengah, Maluku Tenggara dan Buru mencapai nilai investasi sekitar Rp544 miliar.

Hendrik menilai pengembangan industri pengolahan harus menjadi momentum untuk memperkuat ekonomi masyarakat.

“Kita tidak ingin Maluku selamanya hanya menjual bahan mentah. Kita ingin Maluku menjadi daerah yang menghasilkan nilai tambah. Daerah tempat komoditas rakyat diolah, industri tumbuh, investasi berkembang, lapangan kerja tercipta, dan kesejahteraan meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, hilirisasi akan memberikan manfaat berlapis. Tidak hanya meningkatkan nilai jual komoditas, tetapi juga membuka kebutuhan tenaga kerja, mendorong investasi dan menciptakan aktivitas ekonomi baru.

“Karena itu, pemerintah akan terus mendorong pengembangan sektor-sektor ekonomi yang berbasis pada potensi lokal Maluku,” tandasnya. (RED)