SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi Kota Ambon di tahun 2025 mencapai 4,23 persen, berada diatas batas sasaran nasional.
Dalam rapat evaluasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Ambon yang dipimpin Wakil Walikota Ely Toisuta di Balai Kota Ambon, Kepala BPS Kota Ambon, Pauline Gaspersz menyampaikan, inflasi Kota Ambon pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,85 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya maupun Desember 2024.
Dia menyebut, secara kumulatif, inflasi tahun kalender (year to date/y to d) sekaligus year on year (yoy) mencapai 4,23 persen, itu melampaui target inflasi nasional 2025 sebesar 2,5 persen ±1 atau batas atas 3,5 persen.
“Inflasi y to d Kota Ambon tahun 2025 sudah melampaui ambang batas yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 31 Tahun 2024,”kata Gaspers, Kamis (8/12/2026).
Menurutnya, tekanan inflasi utamanya dipicu oleh tiga kelompok pengeluaran, yakni makanan, minuman, dan tembakau, dengan andil 2,24 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,76 persen, serta transportasi sebesar 0,77 persen.
Meski sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit dan ikan mengalami kenaikan harga, namun andilnya relatif kecil dan tertutupi oleh kontribusi emas perhiasan (0,79 persen) serta angkutan udara (0,42 persen).
“Kunci pengendalian inflasi terletak pada jaminan ketersediaan stok,” jelasnya.
Kata Gaspersz, Pemkot Ambon telah memiliki instrumen penting melalui neraca bahan makanan yang dikelola Dinas Ketahanan Pangan sebagai dasar memantau kebutuhan dan suplai komoditas strategis.
“Informasinya bisa kita jadikan driver awal untuk memantau ketersediaan komoditas penting seperti ikan, cabai, bawang merah, daging ayam ras, dan beras, dengan tetap memperhatikan pola konsumsi masyarakat,”jelasnya.
Di lain sisi, Pemkot Ambon berkomitmen untuk terus memperkuat upaya pengendalian inflasi. Wakil Walikota Ambon, Ely Toisuta mengakui, lonjakan inflasi di akhir 2025 dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara yang tidak disertai subsidi dari pemerintah pusat, sehingga berdampak luas pada harga komoditas lainnya.
“Inflasi Kota Ambon yang mencapai 4,23 persen menandakan laju inflasi cukup tinggi diakhir 2025, salah satunya dipicu oleh lonjakan transportasi udara,”ujar Ely.
Dia memastikan, pemkot bakal melanjutkan dan memperkuat intervensi harga, termasuk rencana pembangunan kios atau pasar pengendali untuk menjaga keseimbangan harga dan ketersediaan barang di pasar.
“Kios pengendali ini penting untuk memantau harga sekaligus menyediakan stok komoditas tertentu agar masyarakat bisa memperoleh harga yang terjangkau,” ujarnya.
Selain itu, Pemkot Ambon juga akan memperkuat kembali kerja sama antar daerah dengan kabupaten penyangga, yakni Kabupaten Buru dan Maluku Tengah untuk memastikan kelancaran pasokan komoditas supaya dapat membantu pengendalian inflasi di Kota Ambon.
“Seluruh langkah akan dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat,”tandasnya. (RED)
