MASOHI, SPEKTRUM – Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua menemui tokoh masyarakat Negeri Kariu dan Pelauw Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (26/01/2022), bertempat di Pos Ramil Satgas BKO Arhanud 11 perbatasan antara Negeri Pelauw dan Desa Kariu.
Selain Bupati Maluku Tengah, juga Dandim 1504 / Ambon, Kapolres Ambon, Danyon Arhanud 11, Camat Haruku, Raja Pelauw, Sekcam sekaligus Sekdes Pelauw, Pejabat Desa Kariu, Danramil Pulau Haruku, Kapolsek Pulau Haruku serta Perwakilan BNPB Kabupaten Maluku Tengah.
Dalam pertemuan tersebut disampaikan beberapa hal, yakni dari Pj. Negeri Kariu bahwa pihaknya masih tetap berkoordinasi dengan Kapolsek Haruku serta Danramil.
“Pada saat kejadian tersebut terhadap warga Desa Kariu, kami masih berkoordinasi dengan pihak keluarga korban untuk membawanya ke Rumah Sakit Bhayangkara Ambon,” katanya.
Pj. Negeri Kariu juga menjelaskan jika warga Desa Kariu saat ini mengungsi ke Desa Aboru tapi masih ada yang berdiam di hutan antara Kariu dan Aboru.
“Hingga saat ini belum ada data terkait jumlah korban serta jumlah rumah yang terbakar,” katanya.
Pj. Desa Kariu menjelaskan, sebelum terjadi penyerangan pukul 06.00 Wit pagi dirinya masih berkomunikasi dengan staf desa, namun saat bunyi tembakan dan bom sudah semakin gencar sehingga warga Desa Kariu berinisiatif untuk meninggallkan Desa Kariu dan mengungsi.
“Sampai saat ini masih terdengar bunyi tembakan di sekitar hutan pinggiran desa Kariu, berarti warga Kariu yang orang dewasa masih ada sebagian di pinggiran hutan,” katanya.
Penjabat Desa Kariu menjelaskan, jika pokok permasalahan adalah saling klaim kepemilika lahan antara Desa kariu dan Dusun Ori Desa Pelauw.
“Kami telah berupaya untuk nenyelesaikannya pada 24 Desember 2022, dengan mengirimkan surat kepada Pemerintah Desa Pelauw, namun Pemdes Pelauw tidak menghadiri undangan dimaksud hingga kejadian seperti ini terjadi,” sesalnya.
Sementara itu, Dandim 1504 Pulau Ambon berharap agar Pj. Desa Kariu bisa berkoordinasi dengan masyarakat Kariu yang saat ini berada di hutan Desa Aboru.
“Permasalahan ini akan segera diselesaikan hanya belum diketahui apakah warga Kariu masih bisa dihubungi untuk berdamai karena situasi masih tegang dan masyarakat masih trauma. Saya menghimbau kita semua agar menyelesaikan masalah ini sehingga tidak ada lagi korban jiwa, untuk itu kepada warga desa Pelauw maupun Dusun Ori dan Kariu harus menahan diri dan emosi,” katanya mengingatkan.
Dandim juga mengingatkan agar kejadian tersebut tidak berdampak ke tempat lain, bisa saja pihak lain akan memperkeruh situasi dan memanfaatkan kejadian ini dengan simbol agama.
“Untuk itu permasalahan ini jangan lagi diperpanjang namun harus segera diselesaikan dan jangan ada diantara kita yang jadi penghianat untuk menghancurkan proses awal perdamaian ini,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua menjelaskan, pada prinsipnya pemerintah daerah mendukung apa yang telah dilakukan TNI/POLRI dan harus segera disosialisasikan kepada masyarakat Pelauw, Ori dan Kariu terkait tatanan kehidupan hidup orang beragama dan saudara.
“Kita jangan mnyelesaikan permasalahan secara parsial namun harus secara keseluruhan, sehingga hak masyarakat bisa terpenuhi dan masyarakat bisa hidup dengan tenang. Hanya karena masalah sepele tapi dampak sangat cepat seperti ini sehingga perlu diselesaikan secara cepat, dengan menghadirkan segala elemen terkait di tempat ini,” kata Tuasikal.
Menurut Tuasikal, yang paling penting saat ini adalah mengetahui dimana warga Kariu mengungsi sehingga bisa diberikan bantuan sembako, untuk itu diharapkan kepada pejabat Desa Kariu untuk menjalin komunikasi dengan para tokoh agama, masyarakat dan pemuda dari Desa Kariu untuk duduk bersama menyelesaikan hal ini.
“Saya berharap Kadus Ori untuk menahan dan menenangkan masyarakat Ori untuk tidak lagi melakukan kegiatan apapun dan semuanya diserahkan kepada aparat TNI/ Polri serta jangan lagi terpropokasi dengan isu yang bersifat profokasi untuk memanasi situasi,” katanya mengingatkan.
Sedangkan Raja Pelauw memberikan jaminan bagi masyarakat Kariu untuk kembali ke Desa Kariu.
“Saya sebagai Raja Pelauw menjamin hal tersebut karena waktu lalu saat selesai kerusuhan saya yang mengambil mereka dari Aboru untuk kembali ke Kariu. Saya akan memerintahkan aparat desa untuk mendalami akar permasalahan ini,” katanya.
Untuk sementara akan didirikan lima tenda pengungsian dari BNPBD bagi masyarakat Desa Kariu di Desa Aboru serta distribusi sembako dari Pemkab Malteng. (tim)
