SPEKTRUMONLINE.COM – NAMROLE – Tiga dekade telah berlalu sejak penyerbuan Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58, Jakarta, pada 27 Juli 1996. Peristiwa yang dikenal sebagai Kudatuli itu masih dikenang sebagai salah satu titik paling kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia, sekaligus menjadi pemantik lahirnya gelombang Reformasi 1998.
Konflik yang dipicu dualisme kepemimpinan PDI antara kubu hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Medan yang diakui pemerintah dan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri hasil Kongres Surabaya berujung pada aksi penyerbuan terhadap kantor DPP PDI yang saat itu dipertahankan para pendukung Megawati.
Insiden tersebut memicu kerusuhan di Jakarta. Aparat bersama massa penyerbu membubarkan paksa massa yang bertahan di kantor partai, disertai penggeledahan dan penangkapan terhadap ratusan kader.
Data Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat sedikitnya lima orang meninggal dunia, termasuk Yoga Suryadi Yogis, mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang juga kader GMNI. Selain itu, 23 orang dinyatakan hilang dan hingga kini belum diketahui keberadaannya, sementara 149 orang ditahan dan diproses secara hukum.
Tokoh pemuda Namrole, Sami Latubual, menilai para korban Kudatuli bukan sekadar menjadi bagian dari sejarah kelam bangsa, tetapi simbol perjuangan mempertahankan demokrasi di tengah tekanan kekuasaan.
“Para korban adalah warga negara yang memilih berdiri tegak di tengah perlawanan. Mereka meninggalkan utang moral bagi bangsa ini yang harus terus kita ingat,” ungkap Sami dalam catatannya, Minggu (26/7/2026).
Titik Balik Menuju Reformasi
Menurut Sami, kekerasan yang terjadi dalam peristiwa Kudatuli justru gagal membungkam aspirasi demokrasi. Sebaliknya, peristiwa itu menjadi salah satu pemicu menguatnya gerakan sipil yang kemudian melahirkan Reformasi 1998 dan mengakhiri kekuasaan Orde Baru.
Dari rangkaian perjuangan tersebut, PDI Perjuangan kemudian tumbuh sebagai kekuatan politik yang mengusung semangat perjuangan rakyat kecil atau wong cilik.
Tiga Pelajaran Penting
Memperingati 30 tahun Kudatuli, Sami mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak melupakan nilai-nilai yang lahir dari peristiwa tersebut.
Ia menilai ada tiga pelajaran penting yang masih relevan bagi kehidupan demokrasi Indonesia saat ini.
Pertama, demokrasi tidak pernah bisa dibungkam dengan kekerasan karena sejarah menunjukkan bahwa praktik otoritarianisme pada akhirnya akan dikoreksi oleh perjuangan rakyat.
Kedua, kesetiaan terhadap nilai-nilai politik dan demokrasi justru diuji ketika menghadapi tekanan, bukan saat berada dalam posisi kekuasaan.
Ketiga, menjaga ingatan kolektif terhadap para korban Kudatuli menjadi bagian penting dalam menghargai perjuangan yang melahirkan kebebasan berpendapat dan ruang demokrasi yang dinikmati masyarakat saat ini.
“Peringatan 30 tahun Kudatuli tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Momentum tersebut harus menjadi pengingat agar demokrasi terus dijaga, diperkuat, dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat,” ujarnya. (RED)

Tinggalkan Balasan