AMBON, SPEKTRUM – Salah satu tokoh masyarakat Negeri Manusa, Kecamatan Inamosol, John Neite menyatakan kekesalannya, menyusul pembangunan ruas jalan Kairatu- Honitetu yang berstatus jalan provinsi dan Ruas jalan Kawatu-Manusa yang berstatus jalan kabupaten.
Pasalnya jalan yang sudah mengucurkan anggaran puluhan miliar rupiah tersebut dikerjakan amburadul, sehingga sampai saat ini masyarakat yang mendiami kawasan pegunungan Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram bagian Barat itu tidak bisa memanfaatkan jalan tersebut sabagai satu-satunya jalur transportasi menuju pusat perkotaan.
“Coba pemerintah Provisi maupun kabupaten turun dan menyaksikan ruas kedua jalan tersebut sangat memprihatinkan. Kalau kita lihat jalan Kairatu-Honitetu itu, mulai dari desa Ursana sampai negeri Honitetu rusak, bahkan jembatan pung demikian. Padahal ruas jalan Kairatu-Honitetu ini merupakan jalan tertua di Maluku karena jalan tersebut dibangun oleh pemerintah Belanda saat itu. Jadi jalan menuju Honitetu ini lebih tua dari usia negara Indonesia
Neite mengatakan, di daerah lain pembangunan jalan dan jembatan itu dikerjakan cukup bagus, namun di daerah SBB ini cukup memprihatinkan. Terkait dengan itu dia meminta pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten SBB untuk sebainya mengkeroyok dua ruas jalan tersebut karena kalau tidak masyarakat bisa menilai ada ketidak adilan yang dilakukan terhadap masyarakat pegunungan dengan masyarakat pesisir
Dia mengatakan akibat dari fisik jalan yang hancur saat ini, maka warga Manusa yang ingin turun ke kota harus menggunakan transportasi ojek sebesar Rp.250.000 dari Kawatu sampai di Manusa yang diperkirakan 58 km tersebut. (HS)
