SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON — Peristiwa tenggelam yang merenggut nyawa seorang pengunjung di Kolam Renang Tirto Sagoro 11 Kodaeral IX pada Selasa (24/03/2026) sore menyisakan duka mendalam sekaligus memunculkan perhatian serius terhadap sistem keselamatan di lokasi tersebut.
Korban, Moh. Wildan Sanmas (24), diketahui datang seorang diri dan melakukan aktivitas renang dengan metode free diving. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban sempat terlihat berada di tepian kolam sebelum akhirnya tidak lagi muncul ke permukaan.
Kondisi tersebut baru disadari oleh pengunjung lain yang kemudian berteriak meminta pertolongan. Korban selanjutnya dievakuasi oleh petugas kolam bersama pengunjung lainnya dan sempat mendapatkan penanganan medis awal di lokasi sebelum dilarikan ke IGD RSAL dr. F.X. Suhardjo Kodaeral IX. Namun, korban dinyatakan meninggal dunia setelah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Muncul Indikasi Kelemahan Pengawasan
Pihak keluarga menegaskan tidak memiliki niat untuk menyudutkan pihak tertentu. Namun demikian, dari kronologis yang ada, muncul indikasi bahwa fungsi pengawasan di area kolam belum berjalan secara optimal.
Hal ini terlihat dari tidak terdeteksinya secara dini kondisi korban, meskipun kejadian berlangsung di area yang terdapat pengunjung lain serta telah dilengkapi dengan fasilitas kamera pengawas (CCTV).
“Jika kondisi kolam dalam keadaan ramai, maka pengawasan seharusnya tidak berkurang, melainkan ditingkatkan. Karena dalam situasi tersebut, risiko terjadinya kondisi darurat justru lebih tinggi,” ujar Achmad Rizal Sanmas, perwakilan keluarga.
Achmad Rizal Sanmas menilai bahwa respons awal terhadap tanda-tanda kondisi darurat menjadi faktor krusial yang dapat menentukan keselamatan seseorang dalam situasi seperti ini.
Dorongan Evaluasi dan Perbaikan Sistem
Lebih lanjut, keluarga berharap agar kejadian ini menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan di fasilitas kolam renang.
“Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kami hanya berharap ada perbaikan ke depan. Pengawasan harus lebih sigap, lebih responsif, dan benar-benar mampu mendeteksi kondisi darurat sejak dini,” lanjutnya.
Menurut keluarga, keberadaan fasilitas seperti CCTV dan petugas di lapangan seharusnya dapat menjadi bagian dari sistem deteksi awal yang efektif dalam mencegah kejadian fatal.
Harapan Agar Tidak Terulang
Keluarga menegaskan bahwa harapan utama dari penyampaian ini adalah agar tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari.
“Cukup satu kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Kami tidak ingin ada keluarga lain yang merasakan kehilangan yang sama,” tutup pernyataan tersebut. (RED)
