AMBON, SPEKTRUM – Kepala Seksie Keterpaduan Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku, Hary Mustamu mengaku jika air bersih di Dusun Mahia Negeri Urimesing Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon belum bisa dinikmati masyarakat dusun tersebut lantaran masih berlumpur.
“Kendalanya air yang dihasilkan masih keruh karena kedudukan pompa dalam lumpur setebal 10 meter,” kata Mustamu kepada Spektrum di ruang kerjanya, kemarin.
Menurutnya, pekerja proyek air bersih tersebut telah Kembali bekerja sejak Selasa pekan lalu, dan para pekerja akan mengangkat pompa air pada kedalaman 40 meter diatas lumpur.
“Karena kedalaman sumur bor 80 meter dan para pekerja akan mencoba tarik air, kalua bersih air bisa disalurkan ke rumah warga,” katanya.
Mustamu mengaku ada usulan masyarakat untuk mengmbil air dari sumber dari Dusun Tuni, namun usulan tersebut belum bisa direalisasikan lantaran harus dikomunikasikan dengan pimpinan Balai Wilayah Sungai Maluku.
“Kami akan sampaikan usulan dari masyarakat ke pimpinan saat rapat kerja nanti,” kata Mustamu.
Sementara itu Ketua Komisi III DPRD Maluku, Richard Rahakbauw menegaskan jika pihaknya telah memanggil BWS Maluku untuk mengkroscek kebenaran lporan masyarakat tersebut.
“Komisi III telah memanggil BWS Maluku untuk hadir pada, Selasa (31/05/2022), kita akan kroscek, jika benar maka akan kit tindaklanjuti dengan kunjungan spesifik ke lapangan,” tegasnya.
Untuk diketahui, Proyek Air Baku di Dusun Mahia Negeri Urimesing Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, amburadul dan tidak bisa dinikmati masyarakat setempat.
Proyek yang dilelang pada Januari 2020 dengan alokasi anggaran Rp 1,3 miliar dari Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah SUngai (BWS) Maluku.
Diduga kuat, amburadulnya proyek tersebut lantaran dijerjakan oleh perusahaan yang tidak berkompeten dibidang pekerjaan air bersih atau air baku.
Pantauan Spektrum di lokasi proyek tersebut, mesin pompa air saat ini tidak lagi berfungsi..
Selain itu, sumber air diperoleh dengan cara pengeboran atau pembuatan sumur bor tidak mencapai kedalaman maksimal sehingga air tidak bisa naik keatas dengan baik karena tercampur lumpur.
Hal ini diakui salah satu warga Dusun Mahia, Karel yang ditemui Spektrum.
“Kita sampai saat ini tidak bisa menikmati air bersih yang dikerjakan tahun 2020 karena tidak bisa naik lantaran air tidak ada dan hanya lumpur,” terangnya.
Selain itu, proyek yang menggunakan listrik tenaga surya ini terlihat dibiarkan terbengkalai.
Untuk diketahui, proyek yang berlokasi di Mahia, dengan alokasi anggaran sebesar Rp 1,3 miliar, paket proyek dilelang pada 13 Januari 2020 dan pemenangnya CV. Shinta beralamat JI. Dr. Kayadoe Kudamati, Ambon telah diumumkan LPSE Kementerian PUPR
Diduga kuat CV. Shinta dipinjam AT (Ketua HIPMI Maluku) untuk mengikuti tender proyek dimaksud. (TIM)

