SPEKTRUMONLINE.COM, AMBON – Volume sampah di Kota Ambon kini mencapai sekitar 250 ton per hari. Angka tersebut menjadi tantangan serius yang tidak hanya membebani sistem pengelolaan persampahan, tetapi juga mengancam kualitas lingkungan jika tidak ditangani dengan pendekatan yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menggandeng sejumlah perguruan tinggi, komunitas lokal, hingga mitra internasional untuk mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui proyek penelitian bertajuk “Advancing an Equitable and Just Energy Transition in Ambon through Community-Based Waste Innovation and Inclusive Education atau Mendorong Transisi Energi yang Adil dan Merata di Ambon melalui Inovasi Pengelolaan Limbah Berbasis Komunitas dan Pendidikan Inklusif”.

Program tersebut melibatkan Universitas Katolik Soegijapranata, Macquarie University Australia, Politeknik Negeri Ambon, Institut Tifa Damai Maluku, serta berbagai organisasi masyarakat yang selama ini aktif dalam isu lingkungan.

Walikota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menilai persoalan sampah yang dihadapi saat ini sudah tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah semata. Menurutnya, diperlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar solusi yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan daerah.

“Kami meyakini sungguh bahwa kita sementara berada dalam tantangan yang luar biasa dalam berbagai aspek. Karena itu, tidak ada satu pihak pun yang akan mampu bekerja sendiri. Hari ini kita butuh kerja bersama, butuh dukungan dari berbagai pihak agar tantangan dan persoalan yang dihadapi bisa kita lalui dengan baik,” ujar Bodewin.

Dia menjelaskan, tantangan pengelolaan sampah di Ambon masih cukup besar. Bahkan berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kota Ambon hingga kini masih masuk dalam kategori daerah yang membutuhkan pembinaan dalam pengelolaan persampahan.

Meski demikian, berbagai langkah perbaikan terus dilakukan pemerintah daerah, mulai dari penguatan sarana dan prasarana, penambahan armada pengangkut sampah, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia pada sektor lingkungan hidup.

Namun, Bodewin menegaskan bahwa pola penanganan sampah yang hanya berfokus pada pengumpulan dan pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tidak akan menyelesaikan akar persoalan yang ada.

“Kalau hanya sekadar menampung, mengangkut, dan membuang ke TPA, kita hanya memindahkan masalah dari sumbernya ke tempat pembuangan akhir. Masalah baru akan muncul di sana. Tapi kalau kita mampu berinovasi mengelola sampah dari hulu (sumbernya), maka itu akan sangat membantu,” jelasnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Ambon mulai mengembangkan pendekatan baru yang menempatkan sampah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Salah satunya melalui pengembangan teknologi Material Recovery Facility (MRF) dan Refuse Derived Fuel (RDF) yang memungkinkan sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif dan sumber energi terbarukan.

Selain teknologi, perubahan perilaku masyarakat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah. Bodewin mengaku optimistis karena kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Kata dia, semakin banyak komunitas dan kelompok warga yang secara sukarela terlibat dalam berbagai gerakan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui edukasi yang berkelanjutan dan dukungan teknologi yang tepat guna.

Dalam kesempatan itu, ia juga menaruh harapan besar kepada Politeknik Negeri Ambon untuk melahirkan inovasi teknologi yang dapat diterapkan langsung di tengah masyarakat.

“Politeknik Negeri Ambon membawa langsung nama Ambon. Kali ini kami butuh teknologi pengelolaan sampah dari Politeknik Negeri Ambon. Mudah-mudahan bisa menghasilkan sebuah alat yang bisa kita sediakan dan letakkan di wilayah pemukiman masyarakat. Jika itu terwujud, saya rasa masalah selesai,” tegasnya.

Melalui kolaborasi riset tersebut, Pemkot Ambon berharap dapat memperoleh pemetaan yang lebih akurat terkait persoalan persampahan sekaligus melahirkan rekomendasi dan solusi konkret yang dapat diterapkan dalam jangka panjang guna mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih modern, efektif, dan ramah lingkungan. (RED)