SPEKTRUMONLINE.COM, MASOHI -Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah mulai menyiapkan langkah besar untuk mengembangkan Kepulauan Banda sebagai kawasan wisata berkelas dunia tanpa mengabaikan kelestarian sejarah, budaya, dan lingkungan. Strategi itu dirumuskan dalam Rencana Aksi (Renaksi) “Banda Green: Nafas Budaya, Jejak Sejarah, Pesona Alam” yang dipaparkan Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, pada tahapan akhir Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026 di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri, Kamis (23/7/2026).
Dalam presentasinya di hadapan tim penguji, coach, dan peserta KPPD, Zulkarnain menegaskan bahwa Kepulauan Banda memiliki potensi yang sulit ditandingi daerah lain karena memadukan nilai sejarah, budaya, dan keindahan alam dalam satu kawasan.
Renaksi Banda Green disusun sebagai arah pembangunan jangka menengah yang mengintegrasikan pembangunan infrastruktur hijau, pelestarian cagar budaya, penguatan sektor pariwisata, peningkatan pelayanan dasar, perlindungan lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Maluku Tengah, Rahmat, SH., M.Si. menjelaskan, konsep tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi fiskal daerah yang masih terbatas. Karena itu, pemerintah memilih mengedepankan pola pembangunan berbasis kolaborasi.
“Bupati menyadari bahwa kapasitas fiskal Kabupaten Maluku Tengah masih sangat terbatas. Karena itu implementasi Renaksi Banda Green dirancang secara bertahap pada periode 2027 hingga 2029 melalui pendekatan kolaboratif dan multipendanaan. Bupati akan berperan sebagai dirigen yang mengorkestrasi seluruh potensi sumber pembiayaan agar bergerak menuju tujuan yang sama,” ujar Rahmat.
Ia mengatakan, pembangunan Banda Green tidak hanya mengandalkan APBD Kabupaten Maluku Tengah, tetapi juga akan melibatkan berbagai sumber pembiayaan, mulai dari APBN, APBD Provinsi Maluku, dukungan kementerian dan lembaga, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga berbagai mitra pembangunan lainnya.
Dengan skema multipendanaan tersebut, pembangunan di Kepulauan Banda diharapkan dapat berjalan lebih cepat tanpa bergantung pada satu sumber anggaran, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.
Rahmat menambahkan, pemilihan tema Banda Green mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk membangun Banda secara berkelanjutan, dengan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian warisan sejarah dan budaya, serta perlindungan lingkungan.
“Semangat itu sejalan dengan ungkapan tokoh nasional Sutan Sjahrir bahwa jangan mati sebelum ke Banda, yang menggambarkan besarnya nilai sejarah sekaligus pesona Kepulauan Banda sebagai salah satu warisan penting bangsa Indonesia,” tandasnya.
Dalam pemaparan Renaksi tersebut, Bupati Maluku Tengah didampingi Kepala Bappelitbangda serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Maluku Tengah. Keterlibatan kedua perangkat daerah itu menjadi bagian dari sinergi lintas sektor untuk memastikan perencanaan pembangunan Banda berjalan terukur dan berkelanjutan.
Melalui Renaksi Banda Green, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah menargetkan Kepulauan Banda berkembang sebagai kawasan yang inklusif dan berdaya saing, sekaligus tetap menjaga kekayaan sejarah, budaya, dan kelestarian alam bagi generasi mendatang. (S-10)

Tinggalkan Balasan