Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Thomas Matulessy, Kapitan Poelo atau Kapitan Pattimura?

Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina - Direktur Archipelago Solidarity Foundation.

Kejatuhan Ullath dan Ouw juga menandai penaklukan Saparua, yang diikuti dengan penaklukan semua pimpinan perang pada 12 November 1817, yakni Thomas Matulessy, Philip Latumahina, Anthony Rhebok, Said Perintah, Thomas Pattiwael, Kapiten Paulus Tiahahu. Semua ini menandai berakhirnya perlawanan di Saparua.

Kapitan Paulus Tiahahu dieksekusi di Nusa Laut, setelah disidang di atas kapal. Sedangkan Christina Martha lolos dari hukuman mati, tapi dia memohon ayahnya dibebaskan tapi tidak dikabulkan. Eksekusi terhadap ayahnya ini menyebabkan Christina Martha patah arang. Christina Martha hendak dikirim ke Jawa dengan Kapal Evertsen, tetapi Christina Martha menghembuskan napas di atas Kapal Evertsen dengan Kapten QMR Verhuell pada 2 Januari 1818 dalam usia remaja.

Namun, hanya berselang 14 hari, Mayor Meijer meski sudah mendapat perawatan medis di Ambon, juga tidak diselamatkan karena meninggal pada 16 Januari 1818. Pemerintah Belanda membuat tugu peringatan di Batu Gajah. Dia meninggal dalam usia 28 tahun karena terluka dalam pertempuran pada 12 November 1817 di Ulatth dan Ouw. Belanda membayar mahal, karena ada 11 petugas dan 532 orang yang menjadi korban dalam peperangan ini.

Sementara itu, Thomas Matulessy, Philip Latumahina, Anthony Rhebok dan Said Parinta dijatuhi vonis pada 16 Desember 1817 di Benteng “New Victoria” Ambon.

Di malam terakhir, Thomas Matulessy dikelilingi kepala sekolah dan sebagai seorang Kristen, Thomas Matulessy menghabiskan malam terakhir dengan bermazmur dan beribadah.

Di pagi hari, tanggal 16 Desember 1871, Thomas Matulessy, Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Said Parinta mendengarkan keputusan dewan hakim. Mereka divonis hukuman mati di tiang gantung. Philip Latumahina terlebih dahulu dieksekusi, disusul Anthony Rhebok, Said Parinta dan terakhir Thomas Matulessy. Philip Latumahina harus dua kali menjalani eksekusi karena eksekusi pertama gagal, karena gantungan patah akibat tidak mampu menahan tubuh Philip Latumahina yang besar.

Thomas Matulessy naik ke atas dengan langkap mantap. Dengan suara tenang dan keras menyatakan, “Slammat Tinggal Toewan-toewan!” Ini merupakan kata terakhir Thomas Matulessy.

Mengikuti kisah perjuangan Thomas Matulessy pada tahun 1817 ini, sangat mengejutkan karena dari berbagai referensi yang ada, tidak pernah muncul gelar Kapitan Pattimura untuk Thomas Matulessy, karena gelar yang disematkan melalui sumpah sebagai pemimpin perang adalah Kapitein Poelo. Gelar yang disematkan di Pulau Honimoa (Saparua) ini juga menunjukkan betapa ada kesadaran para pemimpin pada masa itu akan keberadaan Maluku sebagai wilayah kepulauan, sekaligus menjadi pengingat sebagai orang kepulauan.

Lantas, muncul pertanyaan sesungguhnya dari mana asal muasal Kapitan Pattimura ini disematkan kepada Thomas Matulessy. Di sini, kita tidak serta merta menolak gelar Kapitan Pattimura, tetapi sangat lumrah sebagai awam untuk mengetahui riwayat penyematan gelar ini.

Penulis berusaha untuk memeriksa sejumlah referensi tua, termasuk yang ditulis pelaku dalam perang di tahun 1817, ternyata memang tidak ada atau penulis belum temukan. Begitu juga berbagai referensi sebelum Indonesia merdeka, tidak ada referensi yang merujuk kepada gelar Kapitan Pattimura bagi Thomas Matulessy.

Sejauh yang bisa ditemukan, Pattimura ini muncul pada tahun 1950-an melalui nama batalion Pattimura, Pemuda Pattimura, termasuk perubahan nama Bandara Laha menjadi Bandara Pattimura.

Untuk itu, kaum intelektual dan para sejarawan semestinya mengambil peran dan tanggung jawab, sehingga memberikan jawaban terhadap perubahan Kapitan Poelo menjadi Kapitan Pattimura. Semestinya gelar Kapitan Poelo tidak menjadikan perjuangan Thomas Matulessy dan kawan-kawan menjadi kecil. Sebaliknya, penggunaan Kapitan Pattimura tidak serta merta membesarkan perjuangan Thomas Matulessy. Perjuangan Thomas Matulessy akan tetap besar, karena memang begitu adanya, apapun gelar yang disandangnya. Perjuangan Thomas Matulessy jelas dan nyata, sehingga selayaknya mendapatkan kehormatan. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab, siapa yang menyematkan, dimana dan kapan, oleh siapa dan bagaimana gelar itu disematkan. Bagi kita, Kapiten Poelo atau Kapitan Pattimura tentu harus diterima sejauh itu didukung fakta yang benar. Sebab, sangat penting untuk mewariskan kebenaran sejarah bagi generasi mendatang. (*)

Pin It on Pinterest