Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Thomas Matulessy, Kapitan Poelo atau Kapitan Pattimura?

Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina - Direktur Archipelago Solidarity Foundation.

Kalau diterjemahkan kira-kira, Matulesia tiba dalam pertemuan, semua pimpinan sepakat mendeklarasikan Thomas Matulessy sebagai Kapiten Poelo (Kapten Pulau) sebagai panglima perang atas Pulau Honimoa (Saparua), Haruku, Nussa-Laut, Ambon, Seram, dan pulau-pulau sekitarnya.

Hal ini juga terkonfirmasi dalam Buku Tahunan Kerajaan Belanda Tahun 1817, yang menyatakan, “Het opperhoofd, Thomas Matulessy, die den titel voerde Panbliula Parangan Di Atas Poelo Honimao, Haroekoe, Ceram, Hila, Noessa Laout dan layin” (Pimpinannya, Thomas Matulessy, menyandang titel/gelar Panglima Perang di atas Pulau Honimoa [Saparua], Haruku, Seram, Hila, Nusa Laut dan lainnya”

Pengangkatan Kapitein Poelo ini disertai dengan sumpah untuk mematuhi semua perintah tanpa alasan. Bagi yang tidak patuh akan dipaksa untuk memenuhi perintah Kapitein Poelo Thomas Matulessy. Setelah mendapat mandat itu, Thomas Matulessy segera memerintahkan untuk menyerang Benteng Duurstede. Residen van den Berg bersama keluarga dan warga yang berada dalam benteng menjadi korban dalam peristiwa 16 Mei 1817 (Mungkin 14 Mei 1817 ?).

Namun, keesokan harinya, ketika warga ke Benteng Duurstede untuk memakamkan korban, warga menemukan seorang anak Residen van den Berg. Temuan anak ini dilaporkan ke Thomas Matulessy. Ada massa yang menghendaki agar anak itu dibunuh, tetapi Thomas Matulessy ingin anak itu hidup dan mempercayakan kepada Arnold Patiwael yang kemudian diserahkan kepada kakaknya Salomon Patiwael (Belakangan jadi Raja Tiouw). Nanti, setelah perang berakhir anak ini dibawa Kapten Kapal Evertsen Q.M.R. Ver Huell ke Jawa untuk diserahkan kepada keluarganya. Di kemudian hari anak ini dikenal sebagai Van Den Berg van Saparua.

Siapa Thomas Matulessy? Van Doren maupun J. Boelan memberikan gambaran yang mirip, Thomas Matulessy merupakan orang Ambon sejak lahir dan penganut Gereformeerde Godsdienst (Kristen Protestan). Dia berusia sekitar 34 tahun, bertubuh tinggi, berwajah tegas dan serius, berkulit gelap. Dia belum menikah tetapi memiliki kekasih, Elisabeth Gassier.

Thomas Matulessy lahir di Haria, Pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783 dari pasangan Frans Matulessia-Fransina Silahooij. Dia memiliki saudara kandung yang bernama Johannes Matulessy. Keluarga ini tinggal di Negeri Haria.

Pada masa pemerintahan Inggris, Thomas Matulessy menjabat sebagai Sersan Mayor. Dia sangat memahami tata krama, terampil membaca dan menulis, dan memiliki kecakapan militer. Selain itu, Thomas Matulessy adalah penembak jitu yang sangat baik dan mahir menangani semua senjata.

Dengan profil seperti ini tak mengherankan kalau Thomas Matulessy mendapat rasa hormat dan kekaguman dari pemimpin di bawahnya, sehingga tidak ada yang menentang atau melawan perintahnya. Thomas Matulessy menuntut sikap disiplin yang ketat.

Sebenarnya desas desus rencana perlawanan sebenarnya sudah sampai ke Residen di Saparua dan bahkan pemerintah Belanda di Ambon juga sudah mendapat informasi, tetapi diacuhkan karena dianggap sebagai rumor.

Namun, apa yang dianggap sekadar rumor ini mengagetkan pemerintah Belanda di Ambon ketika Gubernur van Middelkoop pada 17 Mei 1817 memperoleh sepucuk surat yang dikirim isteri Residen van den Berg, Johanna Christina Umbgrove tertanggal 13 Mei 1817, yang menginfokan, kalau suaminya telah ditangkap penduduk di Haria atau Porto. Dia melarikan diri ke benteng dan meminta bantuan segera dikirim dari Ambon.

Ketika informasi ini sampai di Ambon, perlawanan rakyat yang dipimpin Thomas Matulessy telah berhasil merebut Benteng Duurstede yang menewaskan Residen van den Berg dan keluarganya bersama seluruh penghuni benteng.

Pin It on Pinterest