Juni 14, 2021

Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Rektor Unpatti Sebut Sarjana Harus Mampu Buat Inovasi

Rektor Unpatti Sebut Sarjana Harus Mampu Buat Inovasi

Rektor Unpatti, M.J. Saptenno dan Direktur Malindo, H. Sakarudin. (Istw.)

AMBON, SPEKTRUM– Rektor Universitas Pattimura (Unpatti), M.J. Saptenno menyebutkan bahwa menjadi sarjana harus memiliki kemampuan berinovasi.

“ Punya mahasiswa tapi kalau tidak punya kemampuan untuk berinovasi,  apa gunanya jadi sarjana?,” ujarnya.

Hal ini disampaikannya saat bertemu Direktur Malindo, H. Sakarudin di ruang rapat Rektor, Kamis (9/6/2021)

Baca juga: Malindo-Unpatti Bakal Kerjasama Cetak Mahasiswa Wirausaha

Rektor berharap, mahasiswa ketika Kuliah Kerja Nyata (KKN) mempraktekkan sesuai bidang ilmu yang diajarkan di bangku perkuliahan,  bukan dari waktu ke waktu yang dikerjakan sama saja -membuat papan nama desa, nama jalan- tidak berubah, seperti pengalamannya di tahun 1982 ketika KKN di pulau Seram.

“KKN harus berubah. KKN itu apa yang didapat di kelas, praktekkan di situ dan kembali ada sesuatu yang berubah di situ, itu KKN. Sesuai bidangnya. Tapi kalau cuma bikin papan jalan, nama jalan dan segala macam, orang kampung lebih pintar dari kita,” tandasnya.

Rektor menyampaikan pengalamannya berkeliling di kota-kota besar dunia dan membandingkannya dengan di Indonesia, khususnya di Maluku. Di kabupaten Kepulauan Aru, banyak potensi sumberdaya alam yang dibuang begitu saja, tidak dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendatangkan kemakmuran bagi masyarakatnya. Padahal di Paris, Perancis, Bekicot pun diolah menjadi makanan lezat yang dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan rutin.

Baca juga: Dukung Pariwisata & Usaha Pangan Kering, Diskop-Malindo Latih UMKM

Potensi Maluku, kata Rektor tidak hanya sumberdaya alamnya yang melimpah, tetapi juga suara. Dari seni suara, bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan. Namun tanpa inovasi, semua itu tidak dilirik sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

Di kampus, untuk ruang terbuka hijau, ia sudah merubah jenis tanaman yang ditanam, saat ini sudah banyak yang berbuah, khas Maluku seperti Pala, Cengkeh dan Kelapa.  

Ia mencontohkan di pasar, mulai dari sabut sampai air kelapa dibuang begitu saja. Padahal jika dimanfaatkan, ada sekitar 1200 varian manfaatnya, salah satunya sebagai bahan pembuatan sabun, selain bahan makanan.

“ Saya pikir ini penting, di Aru, dimana-mana, termasuk kita bikin seni suara, itu bisa menghasilkan uang. Mereka tidak terlalu inovatif untuk itu. Kami siap, apa saja kami mau bikin,” tandas Rektor.

Rektor juga menyampaikan,  Unpatti sudah membuat perjanjian dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan juga Dirjen Perbendaharaan di Kementerian Keuangan RI bahwa maksimal 6 bulan setelah jadi sarjana, para lulusan Unpatti, 80% harus sudah bekerja.

Ia berharap, adanya kerjasama dengan Masyarakat Lokal Indonesia (Malindo), para sarjana nantinya dapat berwirausaha mandiri.

 Ia menyebut, visi Malindo dan Unpatti, cocok dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tentang Merdeka Belajar-Kampus Merdeka . (HS-17).

Pin It on Pinterest