Juni 14, 2021

Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Dukung Pariwisata & Usaha Pangan Kering, Diskop-Malindo Latih UMKM

Dukung Pariwisata & Usaha Pangan Kering, Diskop-Malindo Latih UMKM

Instruktur, Venda Pical dan Direktur Malindo, H. Sakarudin

AMBON, SPEKTRUM– Dinas Koperasi (Diskop) provinsi Maluku dan kota Ambon menggelar pelatihan selama 5 hari untuk UMKM dengan menggandeng Lembaga Teknologi Tepat Guna Masyarakat Lokal Indonesia (Malindo) di aula kantor Diskop provinsi.

Pelatihan ini khusus untuk membuat produk unggulan pangan kering dari berbagai jenis pangan lokal. Termasuk pengemasannya.

Kepada Spektrum di lokasi pelatihan, Selasa (8/6/2021), menurut Direktur Malindo, H. Sakarudin, produk pangan yang sudah dikeringkan, diolah dalam kemasan yang menarik akan memiliki nilai tambah mencapai 300%. Selain awet dan tetap menyehatkan, produk ini juga dapat mengisi kekosongan pasokan pangan kering lokal untuk menunjang pariwisata sebagai visi pemerintah provinsi dan kabupaten kota.

Peserta pelatihan sedang mengolah Kelor menjadi pangan kering
Hasil pangan kering dari aneka bahan pangan lokal yang belum dikemas

 “ Kota Ambon ini ada 300 jenis produk pangan kering yang beredar di pasaran. Kurang dari 10% produk lokal, mengapa itu tidak diberikan kepada rakyat supaya rakyat ada kerja, ada pendapatan?”, ungkapnya.

Ia mencontohkan daun Kelor segar yang dijual di pasar per ikat Rp.5.000, harganya menjadi 3-4 kali lipat jika sudah diolah menjadi pangan kering dalam kemasan.

“ Kelor, begitu jadi, 50 gram Rp.10.000 harganya. Dinikmati oleh rakyat,” jelasnya.

Laki-laki bergelar doktor yang akrab disapa Haji Udin ini menyayangkan jika pelaku UMKM Maluku tidak memanfaatkan dan mendominasi peluang pasar lokal yang menjanjikan ini. Ia berharap dengan pelatihan yang akan dilaksanakan 18 kali nanti, banyak UMKM yang bangkit kembali dan secara rutin menjalankan bisnis pangan kering ini dengan memproduksi berbagai jenis bahan olahan.

“ Semua potensi yang ada di Maluku bisa dibuat pangan kering yang nilai tambahnya diatas 100% bahkan sampai 300% dinikmati oleh rakyat. Itu sangat konvensional sekali. Pertanyaan saya mengapa, Ambon pangan kering diisi dari luar? Mengapa bukan orang Ambon yang buat?,” tanyanya.

Pangan kering yang sudah dikemas

Dirinya membandingkan di NTB yang luasnya jauh lebih kecil dari Maluku tetapi di sana pangan kering lokal mendominasi dan massif mengisi pasar lokal, dikerjakan oleh pelaku UMKM yang berkelompok. Bahkan pasokan lokal tidak mampu memenuhi pasar, saking banyaknya permintaan sehingga mereka terpaksa mendatangkan dari Jawa dan Sulsel.

“Kita berharap Ambon sebagai yang punya visi wisata, bisa menyiapkan makanan yang sehat dan berkualitas. Salah satunya adalah ini,” terangnya.

Pelatihan kali ini sebanyak 60 orang. Pesertanya merupakan utusan dari desa di kabupaten kota. Tiap desa ada 3 peserta. nantinya, peserta dari tiap desa ini wajib membentuk kelompok, minimal anggota kelompoknya 20 orang agar keterampilan ini bisa dikembangkan bersama.

Gubernur Maluku dan juga Walikota Ambon, lanjut Haji Udin, juga mendukung sepenuhnya misi tersebut untuk menggerakkan perekonomian daerah sekaligus menunjang pariwisata dan UMKM. Menurutnya, jika 2 juta penduduk Maluku bisa membuat dan membeli sendiri pangan lokal ini, pasar dengan sendirinya tercipta.

“ Kalau pangan kering dibuat, 2 juta penduduk Maluku bisa beli dengan isi dan kualitasnya bagus dan kemasan yang bagus karena pada akhirnya menentukan adalah pasarnya. Ini yang diterobos oleh Walikota. Saya sudah ketemu dengan pak Gubernur, beliau merespon dengan baik, juga kabupaten kota,” tandasnya.

Senada dengan Haji Udin, dosen jurusan Agrobisnis Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Pattimura, Venda Pical juga menandaskan, di era digital seperti sekarang ini, pelaku UMKM tidak perlu khawatir tentang pasar jika semua UMKM memproduksi pangan kering bersama-sama. Ada digital marketing yang bisa dimanfaatkan, menjangkau seluruh dunia.

“ Dalam dunia yang maju seperti sekarang ini jangan takut pemasaran, karena ada digital marketing juga. Yang kita harus dorong adalah bagaimana masyarakat mau berproduksi. Itu persoalan,” tandasnya.

Venda termasuk salah satu instruktur dari ± 70 doktor yang bergabung memperkuat Malindo.

Malindo sendiri telah menangani 250 kali pelatihan di seluruh Indonesia. Maluku adalah provinsi yang ke-20. Tahun ini direncanakan ada 5 kali pelatihan dari total 18 kali pelatihan.

Bahan pangan lokal yang diolah kering dalam kemasan oleh peserta pelatihan, ada aneka rumput laut, ikan, udang, tomat, kelor, kripik pisang, kelapa, sukun, nenas, ketimun, nangka. Kerupuk ikan, jagung pedas, pisang balado basah, macaroni kacang. (HS-17).

Pin It on Pinterest