Juni 14, 2021

Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Belum Tersangka, Kekuatan lain Diduga Back Up LI

Belum Tersangka, Kekuatan lain Diduga Back Up LI

Ilustrasi Koruptor di Penjara. Sumber Foto: rri.co

AMBON, SPEKTRUM – Hingga saat ini Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon, Luzia Izaac (LI) belum juga ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi di dinas tersebut.

Padahal, dugaan kerugian negara di Dinas LHP Kota Ambon mencapai miliaran rupiah sejak tahun 2019.

Informasi yang diterima Spektrum, Luzia Izaac sementara melakukan lobi tingkat tinggi di Jakarta menggunakan lembaga keagamaan.

“ Saat ini ada orang dekat LI melakukan pendekatan dengan pejabat tertentu di Jakarta, bahkan yang bersangkutan juga menggunakan lembaga agama untuk membantu memuluskan langkahnya,” kata sumber Spektrum di Dinas LHP Kota Ambon, Senin (31/05/2021).

Namun sayangnya, tambah sumber dimaksud gerilya kaki tangan LI di Jakarta belum membuahkan hasil maksimal lantaran dinilai terlambat.

“ Mestinya, lobi dilakukan sejak awal bukan setelah perkara telah masuk penyidikan baru mau melobi, sudah terlambat,” katanya.

Sementara itu, Kasie Intel Kejari Ambon, Jino Talakua yang dihubungi Spektrum semalam, membenarkan jika LI belum ditetapkan sebagai tersangka pada kasus dugaan korupsi di DLHP Kota Ambon.

“ Belum ditetapkan sebagai tersangka, nanti pak Kajari Ambon mengadakan press release,” kata Jino melalui WA.

Untuk diketahui, kejahatan Tipikor di DLHP Kota Ambon, miliaran rupiah raib tanpa kepastian. Sayangnya belum ada tersangka di kasus dugaan penyimpangan anggaran Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kendaraan dinas dan operasional sampah di dinas ini pada tahun 2019 dan 2020.

Padahal, penyidik Tipidsus Kejari Ambon sejak Selasa, 13 April 2021 lalu, telah menaikan status perkara yang diduga merugikan negara miliaran rupiah tersebut, dari tahapan penyelidikan ke penyidikan.

Peningkatan status ke tahapan penyidikan dilakukan setelah penyidik melakukan pemeriksaan terhadap kurang lebih 30 orang saksi, termasuk Kepala Dinas LHP Ambon, Lucia Izaak.

Kasus ini telah terjadi sejak tahun 2019, penyimpangan diduga menghilangkan sekitar Rp.7 miliar, sedangkan untuk tahun 2020 masih dalam pemeriksaan.

Sementara untuk kasus ini telah diperiksa sejumlah saksi dan terungkap banyak kejanggalan terjadi mulai dari rute mobil sampah hingga jatah BBM yang dipotong.

Jatah rute mobil sampah ada tiga namun ternyata yang dilayani hanya dua rute saja.

Selain itu, dalam sehari mestinya setiap mobil sampah memiliki jatah BBM 50 liter namun kenyataannya hanya diberi 20 liter BBM per mobil setiap hari.

“ Sopir disuruh tanda tangan laporan pemakaian ban, dalam satu tahun sebanyak 16 buah padahal para supir mobil sampah hanya memperoleh jatah 4 ban setahun. Bahkan mobil sampah yang tidak beroperasi nomor mobilnya tetap dicatat untuk memperoleh jatah BBM, ban serta perawatan lainnya,” kata sumber ini. (TIM)

Pin It on Pinterest