Agustus 2, 2021

Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Penyebab Meninggalnya Iptu Laurens Tenine Masih Misteri

Penyebab Meninggalnya Iptu Laurens Tenine Masih Misteri

AMBON, SPEKTRUM – Penyebab meninggalnya Danki 4 Yon A Pelopor Brimob Polda Maluku, Almarhum Iptu. Laurens Tenine, masih menjadi misteri.

Perbincangan publik masih mempertanyakan apa sebenarnya penyebab sakit hingga meninggalnya salah satu komandan Kompi di Satuan Brimob Polda Maluku itu.

Diagnosa terakhir meninggalnya, Iptu Laurens Tenine, karena hipertensi, tidak diungkapkan. Pemeriksaan Covid justru dilakukan setelah Iptu Laurens Tenine meninggal dunia.


Kronologis sakit hingga meninggalnya Iptu Laurens Tenine masih menjadi analisa publik. Entah karena kandungan cairan vaksin atau Covid-19.
Pemberitaan sejumlah media atas peristiwa meninggalnya komandan Kompi di Satuan Brimob Polda Maluku itu karena vaksin.


Namun pernyataan pihak Rumah Sakit, Almarhum meninggal akibat terpapar Covid-19. Padahal sebelumnya, pihak RS mendiagnosa terakhir meninggalnya Iptu Laurens Tenine karena hipertensi.


Berdasarkan data yang diterima Spektrum, Minggu (4/4/2021), Iptu. Laurens Tenine meninggal sekitar pukul 07.17 WIT.


Sebelumnya, sekitar pukuk 06.30 WIT, Almarhum dikabarkan tidak sadarkan diri di Rumah Dinasnya di Tantui. Pukul 06.45 WIT, Almarhum dilarikan ke RS Bhayangkara dan mendapat penanganan medis.
Selang beberapa menit, sekitar pukul 07.17 WIT, tim medis RS Bhayangkara memastikan Almarhum telah meninggal dunia dengan diagnosa penyebab meninggal dunia akibat sakit hipertensi.


Terkait peristiwa ini, Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. M Rum Ohoirat yang dikonfirmasi Spektrum, via telepon seluler, Senin (5/4/2021) membenarkan soal diagnosa terakhir meninggalnya Almarhum karena hipertensi. Namun pasca meninggal dunia, jenazah Almarhum dibawah ke RS Haulussy Kudamati Ambon untuk dilakukan pemeriksaan yang berkaitan dengan Covid-19, dan hasilnya positif.


” Memang beliau hipertensi juga, tapi saat divaksin, (hipertensi) masih dibawah normal. Syarat divaksin, (darah) tidak boleh lebih dari 180 dan saat divaksin kondisi beliau normal,” terang Ohoirat.


Ohoirat juga mengaku bahwa Almarhum memang memiliki penyakit bawaan, yaitu hipertensi. Setelah meninggal, Almarhum dibawah ke RS Haulussy untuk dilakukan pemeriksaan Covid karena keterangan pihak keluarga bahwa ada ciri-ciri Covid.

” Sebelum meninggal mengalami sesak napas, sehingga dibawah ke sana (RS Haulussy), dan hasilnya positif, sehingga dimakamkan dengan protokol Covid-19 oleh tim gugus,” ujar Ohoirat.


Ditanya soal apakah dengan penyakit bawaan berupa hipertensi, sehingga tubuh Almarhum tidak seimbang untuk menerima kandungan dari cairan vaksin tersebut. Pasalnya, sebelum divaksin, Almarhum dalam kondisi sehat tanpa keluhan apapun.


Menanggapi itu, Ohoirat menepis dengan meminta agar peristiwa meninggalnya Almarhum tidak dikait-kaitkan dengan peristiwa atau kegiatan-kegiatan sebelumnya yang dilakukan Almarhum. Terutama terkait kegiatan vaksin.
“Data Covid tentang beliau itu ada. Jadi jangan kaitkan dengan sebelumnya begini dan begitu. Memang saat divaksin Tanggal 30 Maret itu beliau sehat, tapi hasil pemeriksaannya positif Covid,” jelasnya.


Ohoirat juga mengaku, setelah divaksin, Almarhum mengalami meriang, dan kemudian sembuh. Namun malam sebelum meninggal dunia (Sabtu malam red), Almarhum sempat mengeluhkan sesak napas.
“Paginya (Minggu red) meninggal dunia. Hasil pemeriksaan positif Covid-19,” ujarnya.
Terkait peristiwa ini, apakah ada laporan dari pihak keluarga, Ohoirat mengatakan tidak ada. Menurut Ohoirat, pihak keluarga justru menerima meninggalnya Almarhum.
” Tidak ada. Keluarga menerima,” katanya singkat.


Untuk diketahui, ringkasan informasi tentang gejala Covid-19 dimana masing-masing orang memiliki respons yang berbeda terhadap Covid-19. Sebagian besar orang yang terpapar virus ini akan mengalami gejala ringan hingga sedang dan akan pulih tanpa perlu dirawat di rumah sakit. Gejala yang paling umum, berupa demam, batuk kering dan kelelahan.

Sementara gejala yang sedikit tidak umum berupa, rasa tidak nyaman dan nyeri, nyeri tenggorokan, diare, konjungtivitis (mata merah), sakit kepala, hilangnya indera perasa atau penciuman, ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau jari kaki. Dan bagi orang yang mengalami gejala serius, akan mengalami kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri dada atau rasa tertekan pada dada hingga hilangnya kemampuan berbicara atau bergerak.


Namun orang dengan gejala ringan yang dinyatakan sehat, harus melakukan perawatan mandiri di rumah. Rata-rata gejala akan muncul 5–6 hari setelah seseorang pertama kali terinfeksi virus ini, tetapi bisa juga 14 hari setelah terinfeksi. (HS-19)

Pin It on Pinterest