Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Tiga Tahun Aktif, Bank Sampah Alstonia Jadi Model

Tiga Tahun Aktif, Bank Sampah Alstonia Jadi Model

AMBON, SPEKTRUM– Bank Sampah Alstonia telah tiga tahun berkontribusi mengelola sampah warga. Kini makin dilirik dan dijadikan contoh model pengelolaan sampah warga di Maluku. Termasuk Dinas Pariwisata Provinsi Maluku yang akan menduplikasi untuk warga di Pantai Liang, Kecamatan Salahutu.

Awal berdiri di tahun 2017 atas inisiatif Ketua RT 002/RW 04, Justus Pattipawae yang giat membenahi kampungnya secara bertahap dan ikut berbagai lomba. Pohon Pule disulap menjadi kampung yang hijau, rapi, asri dan mendatangkan pendapatan bagi warga yang tinggal di lorong tersebut dan juga warga lainnya.

“ Awalnya, terpilihnya RT yang baru, ada perubahan-perubahan dalam lorong sini. Banyak hal yang dibuat. Banyak yang ditata. Sampah juga. Semua tertata rapi secara bertahap. Ketika ada perlombaan-perlombaan, RT disini berpartisipasi untuk ada dalam perubahan tersebut,” ungkap Yenny Pietersz, Sekretaris Bank Sampah Alstonia yang ditemui Spektrum di Pohon Pule, Kamis (18/2/2021).

Sampah plastik yang telah dipilah dan dibersihkan, siap dijual di pengepul

Sebelum PT Pegadaian Persero membantu lewat dana Corporate Social Responsibility (CSR) berupa gedung dan perlengkapan pengelolaan Bank Sampah Alstonia, kata Pietersz, bangunan milik RT 002 yang digunakan berupa sekat sederhana dan seadanya.

“ Sebelum punya gedung seperti ini, kita punya bank sampah pemula, masih sederhana. Waktu itu di ruang sebelah,” ungkap Yenny sambil menunjuk sebuah bangunan sederhana yang disekat zenk.

Lewat berbagai perlombaan dan selalu menjadi juara, kampung atau lorong Pohon Pule jadi makin popular dan banyak pihak akhirnya memberi bantuan. Bank Indonesia juga salah satu yang membantu memberi bibit anakan aneka sayuran, cabai dan bawang.

Sedangkan Dinas Lingkungan Hidup(DLH) Kota Ambon memberi bantuan berupa dua buah biodigester yang mempercepat proses pembusukan sampah organik dari sisa-sisa makanan rumah tangga menjadi pupuk yang menyuburkan tanah dan tanaman.

“ Ada alatnya di dua titik, itu merupakan alat untuk menampung sisa-sisa makanan. Fungsi dari biodigester ini juga untuk memberikan unsur hara bagi tanaman di sekitar,” tuturnya.

Bangunan bantuan dari PT Pegadaian Persero ini ternyata juga multi fungsi, digunakan untuk Posyandu, pada hari-hari tertentu untuk menimbang dan memonitor tumbuh kembang balita karena kegiatan menyetor sampah hanya dilakukan dua kali seminggu, di hari Selasa dan Kamis saja tetapi jika ada warga yang tinggal berdekatan mau menjual sampah di hari lain pun tetap dilayani.

Ibu-Ibu yang sedang memeriksa kesehatan balitanya

“Untuk pengelolaan sampah, ketika dipilah di bank sampah sini, ada jenis-jenis barang yang sudah ditentukan dan di karton. Botol plastik, gelas aqua, buku-buku. Bisa buku tulis tidak pakai, kertas HVS, kertas folio. Itu dipilah per jenis,” terangnya.

Menurut Yenny, botol plastik dihargai Rp.3.000/kg, namun sejak pandemi merebak, pengepul langganannya menghentikan kegiatan pembelian sampah plastik. Pengepul ini ada di Negeri Larike, Kecamatan Leihitu Barat. Sedangkan untuk karton dan kertas bekas per kg dihargai Rp.1.000. Aluminium punya nilai paling besar. Per kg dihargai Rp.10.000.  

Setelah sampah terjual, hasil penjualan ditentukan dengan sistem 80:20. 80% untuk nasabah dan 20% untuk dikelola oleh Bank Sampah Alstonia. Nasabah kemudian menyetor ke PT Pegadaian Persero, dapat berupa tabungan uang maupun tabungan emas, tergantung pilihan nasabah masing-masing.

Saat ini, nasabah yang aktif bertransaksi ada sekitar 25 orang, termasuk juga ibu-ibu Persit Kartika Candra Kirana yang tertarik setelah Justus menyosialisasikan manfaat menabung di Bank Sampah Alstonia ini. (HS.17).

Pin It on Pinterest