Connect with us

SOROT

Burung Endemik Sitaan Mati, Ceisar: Satu Burung Mati, Mereka Berdosa

Ceisar Riupassa, Pemerhati Satwa

AMBON, SPEKTRUM – Pemerhati satwa yang juga instruktur selam dan pegiat pariwisata, Ceisar Riupassa menyesalkan pernyataan Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Maluku, Danny Pattypeilohy yang terkesan lepas tangan atas matinya puluhan burung endemik di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) di Desa Masihulan, Kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah.

Menurutnya, BKSDA sesuai namanya digaji  dan dipercaya oleh negara dan dapat makan dari kegiatan-kegiatan konservasi. Hasil dari memelihara satwa. Jika ada satu satwa saja yang mati, BKSDA berdosa besar karena BKSDA menyita dan membeli burung endemik dari masyarakat dengan harapan dapat melindungi satwa tersebut. Ternyata tidak dipelihara dengan baik. Tidak diperhatikan khusus dan dibiarkan mati begitu saja.

Baca juga: Pengelolaan tak Beres, Burung Sitaan Mati di Masihulan

“Seharusnya satu burung mati, mereka berdosa karena BKSDA dipercaya Negara. Kalau mereka biarkan mati. Ada 88 ekor. Tinggal 47 ekor. 20 dilepasliarkan, berarti ada 21 ekor yang mati. Dari jawaban dimakan ular, berarti apa dong? Berarti pengelolaannya sudah tidak beres,” tandasnya.

Berbagai jenis burung yang siap dilepasliarkan dari Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) di Masihulan ke Taman Nassional Manusela. Sumber Foto: BKSDA Maluku

Konservasi Kakatua Indonesia (KKI), kata Ceisar, hanya membantu pekerjaan dan tugas BKSDA saja untuk mengelola satwa dengan baik dan benar. Semestinya, BKSDA mengontrol di lapangan minimal setiap bulan. Adanya pandemi bukan alasan karena satwa yang disita adalah barang hidup, sama seperti manusia yang harus dijaga dan dirawat layak. Update perkembangan satwa di PRS harus rutin dilakukan untuk memastikan satwa tersebut benar-benar terawat baik.  

“ KKI harus memberikan laporan setiap bulan. Di update. Ada apa?. Makannya bagaimana? Burung yang siap lepas berapa banyak? Burung yang ada dikarantina berapa banyak?. Setiap bulan ada orang BKSDA yang turun meninjau. Mengontrol,” ujarnya.

Lembabnya PRS, kata Ceisar, hanya menjadi alasan karena tempat tersebut sudah layak. Sebelum dibangun PRS di sana, Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) sudah mengatur dan memperhitungkan kelembaban yang cocok dengan satwa yang hendak dipelihara untuk dilepasliarkan.

Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius, Southern Cassowary) yang sudah dilepasliarkan dari PRS Masihulan ke Taman Nasional Manusela. Sumber Foto: BKSDA Maluku
Burung Kakatua Putih (Cacatua alba) yang hendak dilepasliarkan dari PRS Masihulan ke Taman Nasional Manusela. Sumber Foto: BKSDA Maluku

“ Bilang karena lembab, tempat itu sudah diatur. Untuk membangun itu sudah disetujui oleh dirjen PHKA, tempat itu sudah layak. Sudah cocok,” terangnya.

PRS di Masihulan menurut Ceisar adalah satu-satunya pusat rehabilitasi satwa terbaik di Indonesia karena selain ada PRS, ada pula hutan untuk melepasliarkan satwa.

Ia berharap, jika satwa di PRS Masihulan sering dimangsa ular dan tak terawat baik, satwa banyak mati, sebaiknya burung-burung langka tersebut dipindahkan saja ke PRS BKSDA di Passo, Ambon agar mudah pengawasannya. Apalagi jika ada orang yang pernah menitipkan satwa itu di PRS kemudian datang lagi menanyakan nasib satwa tersebut ternyata sudah tidak ada. Tidak terdokumentasi. Tidak ada datanya lagi.

“ Itu lebih baik. Daripada ditinggalkan di sana, pekerjanya tidak dibayar, burung tidak diberi makan dengan baik dan akhirnya semakin hari semakin banyak mati,” tandasnya. (S.17).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in SOROT