Juli 28, 2021

Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Ini Hasil Visitasi 50 Sekolah/Madrasah yang Jadi Pilot Project

Ini Hasil Visitasi 50 Sekolah/Madrasah yang Jadi Pilot Project

AMBON, SPEKTRUM – Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Pusat telah mengumumkan hasil visitasi secata daring terhadap 50 Sekolah/Madrasah Provinsi Maluku yang menjadi pilot project (proyek percontohan).

Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Provinsi Maluk Dr. Abidin Wakano, menjelaskan 50 Sekolah/Madrasah ini telah divisitasi secara daring dengan Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan atau IASP tahun 2020.

“Setelah dilakukan tahapan validasi untuk hasil visitasi secara daring, tahapan verifikasi hasil validasi, dan pleno penetapan hasil verifikasi oleh BAN-S/M Pusat,” jelas Dr. Abidin Wakano, kepada Spektrum Jumat (25/12/2020).

Penetapan hasil visitasi 50 sekolah/madarasah itu sebagai berikut:

Peringkat A terdapat 4 Sekolah. Peringkat B ada 20 sekolah/madrasah, Peringkat C 18 Sekolah/Madrasah. Dan Tidak Terakreditasi sebanyak 8 sekolah/madrasah.

Hasil Akreditasi Per Jenjang

Sekolah Dasar (SD) masing-masing 2 Peringkat A. 10 Peringkat B, 7 Peringkat C, dan 5 Tidak Terakreditasi (TT). Total 24 SD.

Madrasah Ibtidaiyah (MI) hanya 4 Peringkat C. SMP ada 8 masung-masing; 1 Peringkat A, 3 Peringkat B, 3 Peringkat C, dan 1 Tidak Terakreditasi.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) ada 4. Masing-masing, 3 Peringkat B, 1 Peringkat C.

SMA ada 5 masing-masing, 1 Peringkat A, 3 Peringkat B, dan 1 Tidak Terakreditasi. Madrasah Aliyah (MA) 1 Ttdak Terakreditasi.

Hasil Akreditasi Per Jenjang

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 3 ; masing-masing 1 Peringkat B, 2 Peringkat C. Dan Sekolah Luar Biasa (SLB) ada 1 dengan Peringkat C.

Peringkat Akreditasi Jenjang SD/MI

SD masing-masing, 2 Peringkat A (8 %), 10 Peringkat B (42%), 7 Peringkat C (29%), Tidak Terakreditasi 5 (21%). Jumlah 24 SD.

Madrasah Ibtidaiyah atau MI, 4 Peringkat C (100%). SMP masing-masing 1 Peringkat A (13%), 3 Peringkat B (38%), 3 Peringkat C (38%), dan 1 Tidak Terakreditasi (13%).

Madrasah Tsanawiyah atau MTs ; 3 Peringkat B (75%), dan 1 Peringkat C (25%). Jumlah 4 MTs.

SMA; 1 Peringkat A (20%), 3 Peringkat B (60%), dan 1 Tidak Terakreditasi (20%). Jumlah 5 SMA.

Madrasah Aliyah atau MA; 1 Tidak Terakreditasi (100%). SMK ; 1 Peringkat B (33%), 2 Peringkat C (67%). SLB; 1 Peringkat B (100%).

Abidin menerangkan, jika dilihat dari presentasi yang ada, jenjang sekolah yang tidak terakreditasi atau TT terbanyak adalah tingkat SD sebanyak 5, dari 24 SD yang divisitasi.

“Diikuti dengan 1 SMP, 1 buah SMA dan 1 buah MA, jadi total yang tidak terakreditasi sebanyak 8 buah S/M,” sebutnya.

Setelah dievaluasi, menurut Abidin, faktor-faktor penghambat terhadap proses visitasi secara daring atau virtual tahun 2020 ini antara lain:

Pertama, Ketidaksiapan sekolah dan madrasah dalam menghadapi visitasi dengan instrumen baru IASP 2020.

Kedua, belum maksimalnya proses sosialisasi tentang instrumen IASP 2020.

Ketiga, sarana dan sumber daya IT, terutama di sekolah/madrasah yang berada di daerah-daerah 3 T atau di desa/dusun masih sangat terbatas, sehingga sulit menghadapi proses visitasi secara daring.

Peringkat Akreditasi Jenjang SD/MI

Keempat, Ketersediaan jaringan internet dan listrik di pedesaan masih sangat terbatas.

“Hambatan-hambatan tersebut juga sangat berpengaruh terhadap hasil visitasi yang ada,” jelas Dr. Abidin Wakano.

Strategi yang dibutuhkan antara lain; perlu adanya sinergitas antara Dinas Pendidikan, Kemenag, LPMP, dan BAN-S/M dalam melakukan sosialisasi IASP 2020 dan pengisian Data Isian Akreditasi (DIA).

“Pemerintah perlu menyiapkan tenaga IT yang memadai di sekolah/madrasah. Ketiga. Pemerintah daerah perlu mamfasilitasi sarana dan jaringan internet di sekolah/madrasah,” pungkasnya. (TIM)

Pin It on Pinterest