May 19, 2021

Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Kadisperindag Maluku: Jadilah Konsumen Cerdas

Kadisperindag Maluku: Jadilah Konsumen Cerdas

AMBON, SPEKTRUM – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Provinsi Maluku, Elvis Pattiselanno memberi tips cerdas jika ke pasar agar mendapat harga lebih murah.

Kerap memantau harga-harga komoditi di pasar, ia jadi hafal di tempat mana saja dapat memperoleh harga yang sedikit lebih murah.

“Jadilah konsumen cerdas. Hasil pantauan kita, di jalan, itu agak sedikit tinggi tapi kalau masuk ke dalam pasar, itu lebih rendah. Kalau ada yang tawar diberikan,” ungkapnya.

Hal ini dikatakannya di halaman Kantor Gubernur Maluku, Senin (14/12/2020) usai melepas secara simbolik, bantuan sembako mobile di 47 desa/kelurahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Pedagang Cabe, Tomat, Bawang dan bumbu/rempah di Pasar Mardika, Ambon

Ia juga memastikan harga barang kebutuhan pokok seperti terigu, gula pasir, beras, minyak goreng dan mentega harganya stabil dan jumlahnya mencukupi sampai Natal menjelang karena pihaknya sudah melakukan rapat beberapa kali dengan distributor, operator pelayaran, PT. Pelni, PT Pelindo maupun dengan gerai-gerai modern yang ada di Kota Ambon dan di kabupaten/kota lainnya di Maluku.

“ Kita sudah rapat 3 kali. Memastikan stok sampai Natal ini akan tersedia dalam jumlah cukup. Mereka pastikan semua tersedia dalam jumlah yang cukup karena distribusi dengan operator pelayaran itu berjalan dengan lancer,” bebernya.

Namun, hasil pantauan Disperindag bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan satuan tugas pangan, ada beberapa komoditi yang di satu bulan ini mengalami lonjakan, seperti bawang merah, telur dan daging sapi.

Bawang merah dan daging sapi, harganya naik cukup signifikan. Bawang merah yang biasanya per kilo seharga Rp.31.000 – Rp.35.000,-, sekarang naik menjadi Rp.41.000 – Rp.45.000,-. Menurut Pattiselanno, masih wajar jika penjual mengambil keuntungan Rp.7.000 – Rp.8.000 per kilonya karena mereka membeli kotor. Satu karung isi 25 kg akan berkurang 2-3 kg setelah dibersihkan. Belum lagi penjual membayar upah kepada orang yang membersihkan bawang.  

Bawang Merah di pengecer dijual seharga Rp.50.000/kg

“Mereka bersihkan, beratnya tinggal 22-23 kg. Berarti ada 2 kg yang hilang. Membersihkan juga bayar orang. Jadi hitung-hitungannya tidak bisa mereka beli 31-32 ribu lalu jual 35.000. Itu tidak balik modalnya. 7.000-8.000 itu masih dalam batas wajar,” tuturnya.

Telur per butir naik senilai Rp.100. dari yang biasanya ukuran kecil dijual Rp.1.600 – Rp.1.700, menjadi Rp.1.800. sedangkan ukuran besar harganya menjadi berkisar Rp.1.800 – Rp.2.000,-. Kendati naik, ia memastikan stok telur banyak dan distribusinya lancar.

“Laporan dari (kapal) Tanto, ada 3 kontainer masuk. Jadi setiap minggu masuk terus,” ungkapnya.

Pedagang daging sapi. Sumber Foto: liputan6.com

Kenaikan harga daging sapi, dari biasanya Rp.95.000 – Rp.105.000 per kilo menjadi Rp.120.000 – Rp.125.000,- menurut Pattiselanno karena sapi-sapi lokal dari pulau Seram dan Buru dijual ke Papua dan Sulawesi Selatan. Olehnya, ia sudah berkoordinasi ke kabupaten agar memprioritaskan pasar Ambon.

Kendati orang Maluku pola konsumsi nya bukan memprioritaskan daging sapi sehingga kenaikannya tidak seberapa mempengaruhi ekonomi rumah tangga namun ia tidak akan membiarkan kenaikan harga daging sapi ini berlanjut.  

“ Orang Ambon lebih ke ikan. Beda kalau ikan naik, itu otomatis dia sangat mempengaruhi karena orang Ambon setiap hari musti makan ikan. Tapi kita tidak bisa biarkan terus begitu. Daging sapi ini tetap harus ada solusi supaya dia bisa kembali ke harga normal seperti sebelumnya,” ujarnya.

Komoditi lain yang stoknya juga tidak terlalu banyak, kata Pattiselanno adalah cabe. Pasokan cabe lokal sangat terbatas. Kendati menurut dinas pertanian ada panen cabe sekitar 40 hektar di Maluku Tengah namun belum mencukupi permintaan pasar.

Sentra produksi cabe di kabupaten Buru pun mengalami penurunan produksi karena tanaman sudah berkali-kali di panen. Butuh peremajaan dan perluasan lahan. Cabe yang dibawa dengan kapal-kapal Pelni juga tidak dapat memuat banyak karena mudah rusak/busuk.

“  Tempat penyimpanan tidak ada. Kalau banyak lalu tinggal sampai seminggu itu sudah rusak. Kita berharap suplai dari lokal itu sebaiknya rutin, tidak putus. Itu saya berharap,” pintanya. (S.17).

Pin It on Pinterest