Connect with us

Hiburan

Nico Tulalessy: Pariwisata Musik Itu Berkelanjutan

Nico Tulalessy, Pegiat Pariwisata Musik

AMBON, SPEKTRUM – Mengembangkan pariwisata, tidak cukup hanya sebatas membidik  tempat wisatanya saja. Ada tata kelola yang melibatkan banyak pemangku kepentingan didalamnya.  Hal ini disampaikan pegiat pariwisata musik, Nico Tulalessy, kepada Spektrum, Selasa (17/11/2020).

Menurutnya, bicara pariwisata adalah berbicara tentang kepentingan bersama, bagaimana rasa aman dan nyaman diciptakan. Tidak perlu dengan hal yang muluk-muluk dan menghabiskan banyak uang. Contohnya dengan membiasakan perilaku tidak membuang sampah sembarangan dan konsisten menerapkan aturan serta menata beranda kota Ambon. Juga menghargai seniman lokal.

“ Pariwisata musik itu berkelanjutan. Ada banyak kebaikan-kebaikan. Untuk menunjang keberlanjutan. Partisipasi masyarakat mendukung program pemerintah. Mendukung kota musik dunia,” ujarnya.

Walikota Ambon, Richard Louhenapessy Berpartisipasi Bersama Komunitas Lebe Bae Ukulele Kids Membersihkan Pesisir Pantai dan Menanam Pohon.

Pemerintah Kota Ambon dan provinsi Maluku, kata Tulalessy harus berani berbenah. Tidak hanya memperbaiki infrastruktur jalan dan selokan tetapi juga gencar memberi penyadaran tentang pentingnya menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat. Gencar mempromosikan kota bersih dan hijau.  Jika kesadaran masyarakat belum tumbuh juga, pemberlakuan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Sampah, wajib diterapkan.

“ Di trotoar banyak lubang. Isinya botol plastik semua. Kalau satu turis terpelosok dan cerita ke temannya.  Hancur kota musik dunia. Langsung kalah sepuluh kosong,” tandasnya.

Ia berharap, ketentuan  Pasal 57 Perda tersebut sudah waktunya diterapkan yakni membayar denda paling banyak limabelas juta rupiah atau pidana kurungan paling lama dua bulan bagi setiap orang dan Badan yang membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan.  

Desa Amahusu, kata Tulalessy,  sudah menjadi tempat wisata unik dengan mengemas budaya sehari-hari menjadi daya tarik. Turis asing yang datang, diajak ke rumah-rumah warga setempat. Dianggap sebagai bagian keluarga sendiri. Menikmati suasana rumah dan pantai. Relationship tourism, ia menyebutnya demikian. Membuat Colo-Colo. Mengaduk Papeda. Bercengkerama. Belajar dan bermain musik bersama. Ukulele, Totobuang dan musik tradisional lainnya.

“ Relationship people to people untuk menunjang sister city. Malam hari kita ajak mereka tanam satu pohon. Pohon Apiong (Terminalia Catappa-red).  Satu orang, satu tanaman. Tidak perlu hebat-hebat menghabiskan uang. Cuma bicara relationship tourism  ,” ungkapnya.

Sejak tahun 2017, dosen-dosen di universitas di Australia, kata Tulalessy, telah mengajak mahasiswa-mahasiswinya belajar di Amahusu. Belajar tentang kearifan lokal dan sejarah rempah. Setelah itu, mereka diwajibkan menulis dan mempresentasikannya setelah pulang ke negaranya.

Kegiatan ini terjeda karena pandemi Covid-19.   (LEM).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Hiburan