Connect with us

Politik

Simpatisan Golkar – PDIP Kecam Mahedar

AMBON, SPEKTRUM – Pernyataan Wakil Ketua Bappilu DPD I Partai Golkar Provinsi Maluku, Yusri AK “Dade” Mahedar  menuai kecaman.  Kecaman dari kader maupun pimpinan PDI Perjuangan, juga kalangan Golkar sendiri.

“Mahedar terlalu lancang dalam berpolitik, mestinya dia belajar dari petinggi Partai Golkar lainnya yang cerdas dan santun dalam berpolitik,” kata salah satu simpatisan Partai Golkar yang mengaku bernama Ongen Rumataliak kepada Spektrum di Sekretariat DPD I Partai Golkar Maluku di Karang Panjang Ambon, Sabtu (14/11).

Menurutnya, sikap dan perilaku Mahedar bisa berakibat pada disharmonisasi dua partai besar ini. Padahal, selama ini kedua partai ini selalu rukun walaupun tidak sejalan dalam politik.

Rumataliak menyayangkan pernyataan Mahedar yang secara langsung mengusik pimpinan partai lain.  “Ini berbahaya, sebab kita semua tahu, setiap partai politik punya simpatisan atau pendukung fanatik. Jika pernyataannya tidak bisa diterima pendukung fanatik partai tersebut maka akan ada dampaknya,” kata Rumataliak.

Sebagai simpatisan Partai Golkar, Rumataliak meminta pimpinan DPD I Partai Golkar Maluku segera meminta penjelasan Mahedar.

“Oknum seperti ini yang akan menghancurkan Partai Golkar jika masih terus dipelihara,” katanya tegas.

Senada dengan Ongen Rumataliak, Petrus Paliyama simpatisan PDI Perjuangan di Saparua mengaku geram terhadap ucapan Yusri Mahedar.

“Kalau Mahedar punya bukti harus dibuka, jangan bicara seenaknya saja. Apa urusannya Pilkada dengan polisi,” katanya saat menghubungi Spektrum via ponselnya, Minggu, (15/11).

Paliyama meminta polisi usut tuntas persoalan ini, karena ini memiliki unsur pencemaran nama baik kepala daerah, partai politik dan juga pasangan yang diusung PDI Perjuangan di SBT.

“Kita semua inginkan Pilkada yang bersih dan bermartabat, jangan gunakan trik jahat dengan menyebar fitnah murahan,” katanya geram.

Paliyama mengingatkan Mahedar untuk tudak mengkambinghitamkan orang lain dalam kasus ini.

“Jangan nanti beralasan ada informasi dari masyarakat dan sebagainya, harus bertanggungjawab karena pernyataan ini keluar dari mulut seorang Mahedar,” tandasnya.

DPD PDIP Maluku telah melaporkan Yusri A.K Mahedar ke pihak kepolisian. Pelaporan dilakukan pasca beredarnya rekaman suara Mahedar yang menyebut keterlibatan Gubernur Maluku, Murad Ismail dalam dugaan intimidasi yang dilakukan pihak kepolisian terhadap Kepala-Kepala Desa di Kabupaten SBT.

Dengan bukti rekaman dan pemberitaan salah satu media lokal, beberapa tim DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku didampingi Kuasa Hukum, mendatangi Polresta Pulau Ambon dan Pp. Lease untuk melaporkan fitnah dan pencemaran nama baik yang dilakukan Mahedar.

Salah satu Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, Djunaidi Marasabessy, kepada Spektrum, usai melaporkan kasus tersebut menjelaskan, dari rekaman audio yang telah diterima, nama Murad Ismail selaku Ketua DPD PDI Perjuangan disebut.

“Yang mana dalam rekaman itu Yusri mengatakan, bahwa pa Murad selaku Ketua DPD PDI Perjuangan menyuruh kepolisian untuk mengintimidasi para Kepala Desa di SBT, bahkan dia (Yusri) juga mengulangi telah terjadi hal yang sama saat Pilkada 2018 lalu. Yang menjadi masalah, itu dia menggiring institusi kepolisian,”bebernya.

Apalagi, lanjutnya, dugaan fitnahan yang dilontarkan Yusri, disampaikan dalam rapat bersama DPP parta Golkar yang berlangsung dalam bentuk webinar pada Tanggal 24-25 Oktober 2020.

“Menurut kami ini sebuah fitnahan politik, kalau ia maka dia harus buktikan, jika fitnah maka harus ada sanksi hukum. Dan saya berharap kepolisian akan bekerja profesional sesuai mekanisme kepolisian,”tuturnya. (S-16)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Politik