Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Setiap 40 Detik, Ada Orang Bunuh Diri

Setiap 40 Detik, Ada Orang Bunuh Diri

AMBON, SPEKTRUM – Organisasi kesehatan dunia, WHO mencatat, setiap hari, setiap 40 detik, ada satu orang melakukan usaha percobaan bunuh diri .

Satu dari empat orang dewasa mengalami masalah kesehatan jiwa. Jika ditotalkan, ada sekitar 60 juta orang terkena Bipolar, 41,5 juta orang mengalami Demensia, 21 juta orang terkena Skizoprenia dan 35 juta orang kena Depresi.

Hal ini dikatakan Venny Pungus, Wakil Direktur Umum, SDM dan Pendidikan, Rumah Sakit Bethesda, Jogjakarta, dalam Webinar “Inclusion for Mental Health – Inclusion for All”, Jumat, (16/10/2020).

Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa itu, sepuluh persen Orang Dengan Skizoprenia (ODS) melakukan bunuh diri. Gangguan kesehatan jiwa lainnya juga dapat memicu tindakan bunuh diri.

Penyebab gangguan jiwa, lanjut Venny, ada tiga faktor: biologis, psikologis dan sosial. Faktor biologis ini, bisa genetik, penyakit otak, cedera kepala, penyakit fisik lain dan pengaruh obat-obatan. Faktor psikologis berupa pola asuh yang salah, trauma masa lalu dan kepribadian seseorang. Sedangkan faktor sosial  seperti budaya, ekonomi, agama atau spiritual dan pendidikan.

Sumber: dr.Venny Pungus, SpKJ.

Ketiga faktor tersebut dapat menimbulkan gangguan pola pikir, perilaku aneh dan perlindungan lemah, keterisolasian yang pada akhirnya memicu timbulnya gangguan jiwa.

“Problem yang saat ini kita hadapi. Di era pandemik banyak orang mengalami masalah ekonomi. Kehilangan pekerjaan.  Kehilangan penghasilan. Belum lagi adanya demo-demo yang marak. Sangat membuat seseorang terpicu untuk mengalami gangguan mental,” ungkapnya.

Tahapan gangguan jiwa, ada empat fase. Masing-masing fase memerlukan dukungan lingkungan dan keluarga. Pola penanganan yang salah, kata Venny dapat menjadi problem.

Pada fase prodomal masih belum muncul gejala yang jelas.  Orang sudah mulai mengalami stress dan tekanan hidup yang memerlukan pendampingan psikososial. Fase kritis atau akut membutuhkan pengobatan dengan dirawat di rumah sakit dan kontrol rutin atau rawat jalan.. Jika sudah tenang dan terkontrol , harus diperhatikan peningkatan ketahanan jiwa, mencegah kambuh dan memecahkan masalah.

“Fase pemulihan harus ada pekerjaan, tempat tinggal, keluarga, sahabat. Di fase ini teman-teman LSM akan sangat membantu pemulihan,” tandasnya.  (S.17).