Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Perlukah Sosialisasi Narkoba untuk Anak-Anak?

Perlukah Sosialisasi Narkoba untuk Anak-Anak?

Oleh: Go Elisabeth, S.Psi

Anak-anak tentunya, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap segala hal ataupun sesuatu yang menjadi objek penginderaan. Salah satu pertanyaan yang paling sering dipertanyakan oleh anak-anak kepada orang tua mereka adalah “Mengapa?” dan “Untuk apa?” Seperti halnya lagu Sam Bimbo yang menggambarkan pertanyaan anak pada bapaknya, untuk apa bersusah-susah puasa.

George Loewestein, seorang professor dalam bidang psikologi dari Carnegie Mellon University telah mengemukakan dalam sebuah makalahnya yang berjudul The Psychology of Curiosity bahwa keingintahuan akan muncul ketika perhatian seorang anak tertuju pada sebuah informasi maupun hasil penginderaan yang dirasa masih kurang dan penuh dengan rasa penasaran ataupun kejanggalan.

Rasa ini kemudian membuat anak-anak semakin termotivasi untuk mencari tahu kekurangan informasi ini. Rasa keingintahuan merupakan kodrati manusia, karena setalah bayi lahir, pertumbuhan otak anak akan berkembang 80 persen hingga di usia tiga tahun dan mengalami kematangan pada usia lima tahun.

Pada usiagolden age ini, jaringan koneksi otak anak-anak makin aktif sehingga mampu menyerap informasi sekaligus meresponnya dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari orang dewasa.

Keingintahuan tentang sesuatu akan melekat erat dalam memori anak-anak yang menjadi dasar bagi mereka untuk belajar dan mengeksplorasikannya dalam segala aktifitas dan kesempatan. Bahkan bukan hanya itu, mereka juga sangat antusias untuk mencoba berbagai hal yang telah memicu keibgintahuan mereka.

Mereka mencoba memotong kertas dengan gunting, bermain korek api, mencoba meloncat dari kursi dan sebagainya.Tentunya hal ini sangat mebahayakan si anak jika tanpa perhatian dan bimbingan yang baik dan benar.

Apa jadinya jika informasi yang diberikan dalam sosialisasi tentang bahaya narkoba bagi anak-anak usia golden age ini sangat kurang atau ganjal yang membuat mereka bertanya-tanya tanpa ada jawaban yang dapat mereka cerna sesuai level pengetahuan mereka ataupun tanpa perhatian dan bimbingan orang tua.

Perlu diingat bahwa keingintahuan ini akan merekat erat pada memori anak untuk ingin tahu dan mencobanya. Mungkin saja mereka tidak mencobanya di usia ini, namun bias saja keingintahuan itu dicoba saat beranjak remaja sekedar untuk mendapatkan informasi dan jawaban yang lebih meyakinkan.

Tidak mengherankan jika maraknya phenomena remaja mabuk dengan mengkonsumsi air rebusan pembalut Lem Aica Aibon dikarenakan keingintahuan mereka untuk mencoba dan mencoba-coba. Bahkan hasil coba-coba itu bisa dilakukan dengan mencampur lagi air rebusan pembalut itu dengan zat lainnya yang membuat mereka semakin fly.

Itulah sebabnya, hasil penelitian BNN di tahun 2019 menemukan adanya peningkatan penyalahgunaan narkoba oleh remaja dari 20 persen meningkat menjadi 24-28 persen.

Olehnya itu, sosialisasi bahaya narkoba bagi anak-anak golden age ini harus lebih hati-hati untuk diselenggarakan karena akan merekatkan informasi yang menambah keingintahuan dan penasaran mereka untuk mencoba.

Kalaupun tetap diselenggarakan, maka beberapa aspek kiranya dipertimbangkan secara matang tentang materi, pemateri dan pendampingan orang tua dalam memberikan penjelasan tambahan bagi anak mereka.

Tentunya materi sosialisasi sangat sederhana, logis, detail dan jelas sesuai dengan perkembangan usia anak. Materi hendaknya menggunakan gambar yang menarik bagi anak disertai dengan contoh-contoh yang sederhana dan mudah dipahami.

Pemateri adalah orang yang benar-benar mampu memberikan pemahaman kepada anak-dan serta mendukung kecerdasan anak dalam mencari tahu. Orang tua mampu membimbing anak untuk mencari tahu dan menumukan informasi yang baru mereka peroleh serta mengarahkan rasa keingintahuan itu ke arah yang positif dan senantiasa mendukung rasa keingintahuan anak.

Dengan demikian, sosialisasi bahaya narkoba bagi anak-anak akan berdampak positif dan memberikan penjelasan dan jawaban yang memadai atas keingintahuan mereka, sehingga rasa itu tidak lagi melekat pada memori dan hilang ketika beranjak dewasa.

Karena mereka merasa bukan lagi sebagai orang yang berpikir pemula (beginner mind) melainkan sebagai pemikir dewasa dan ahli (expert mind) dengan bekal pengetahuan dan bimbingan yang baik. #Hidup100persen.Sadar,Sehat, Produktif dan Bahagia. (*)

Penulis adalah Penyuluh Narkoba P2M BNN Provinsi Maluku

Pin It on Pinterest