Connect with us

Sosok

Meinny Lessy, Dokter Muda Dipedalaman SBB

Puskesmas dimana dokter muda itu dianiaya

Dianiaya Karena Dianggap “Mengusik”, Kasusnya Kini Didiamkan Polres SBB

AMBON, SPEKTRUM – dr. Meinny Jeane Lessy, adalah salah satu dokter muda yang ditugaskan di kilo 24 pedalaman Seram Bagian Barat (SBB), tepatnya di Puskesmas Inamosol, Kecamatan Inamosol, Kabupaten SBB.
Lulus dalam seleksi CPNS di SBB pada Tahun 2018 dan ditempatkan pada Puskesmas Inamosol pada Tahun 2019, hari-hari menjalankan tugas dengan penuh tekanan batin karena dianggap sebagai pengusik.
Kepada Spektrum, di Ambon, Senin (13/10) Lessy bercerita, bahwa awal penugasannya, semuanya baik-baik saja, hingga suatu saat, dirinya mempertanyakan hak JKN-nya kepada Bendahara Puskesmas, hingga akhirnya menimbulkan dendam.
“Kecurigaan saya, bahwa timbul ketidaksukaan mereka (pegawai Puskesmas), berawal dari itu, saya meminta Bendahara mengirimkan JKN saya, namun Bendahara beralasan bahwa itu akan dipotong untuk acara refresing yang katanya sudah menjadi tradisi. Oke, namun, kepada para pegawai, Bendahara mengatakan, bahwa acaranya tidak jadi, karena sudah ambil JKN itu, padahal tidak,”tutur Lessy.
Hingga akhirnya pada agenda rapat internal, dirinya berniat mengklarifikasi apa yang diumbar oleh Bendahara, namun tidak diberikan kesempatan untuk bicara sekatapun. Hingga akhirnya sempat terjadi ketegangan yang nyaris mengakibatkan, dokter kelahiran 1991 itu, dianiaya oleh para pegawai dalam rapat itu.
“Mereka tidak memberikan saya kesempatan sedikitpun untuk mengklarifikasi pernyataan bendahara, terjadi aduh argument, sampai-sampai beberapa pegawai itu mengangkat kursi dan hendak akan melempari saya. Saya keluar dan berteriak “saya akan laporkan kalian semua ke polisi”. Mendengar itu, Kepala Puskesmas meminta saya untuk masuk dan menyelesaikan kegaduhan itu. Dan ini peristiwa pertama pada Januari 2020,”tuturnya.
Kemudian lanjutnya, muncul peristiwa kedua pada Juli 2020, disaat dirinya sedang melakukan pemeriksaan terhadap pasien. Tiba-tiba ada perkataan sindiran dari salah satu pegawai, yang mana dirinya merasa, bahwa kata-kata itu ditujukan untuk dirinya.
Mendengar itu, dirinya kemudian berinisiatif untuk menemui Kepala Puskesmas yang berada di ruangan sebelah. Namun karena tidak ditemui, dirinya meminta salah satu perawat untuk turut mencari keberadaan Kepala Puskesmas.
“Saat saya minta tolong perawatnya, tiba-tiba ada suara dari ruangan lain yang berteriak. Ternyata itu bendahara dan salah satu bidan, sambil jalan kearah mereka, dan disitu memang mereka karena sebelumnya sudah simpan dendam mungkin, jadi mereka sangat emosi. Disitu saya memang sengaja aktifkan video di kamera hanphone. Hingga akhirnya, terjadi penganiayaan dan nyaris pengeroyokan yang dilakukan oleh pegawai puskesmas itu,”jelasnya.
Beruntung sambungnya, karena dengan peristiwa pertama, dirinya saat bekerja, selalu diantar dan ditungguin oleh calon suaminya, sehingga saat peristiwa itu, calon suaminya turut melerai aksi pukul borong para pegawai itu. Namun akibat dari penganiayaan itu, dirinya mengalami sakit dan lebam dibagian belakang, dan luka garis pada bagian tangan.
Untuk diketahui, sebelum peristiwa kedua, dirinya mengaku mendatangi Dinas Kesehatan SBB untuk mempertanyakan ada tidaknya anggaran untuk program puskesmas keliling dan posyandu. Karena dalam pertemuan bersama Kepala Puskesmas pasca ditemukannya kasus gizi buruk diwilayah tersebut, Kepala Puskesmas mengaku bahwa tidak ada anggaran untuk itu.
Namun kedatangan dirinya ke Dinas saat itu, sampai ketelinga Kepala Puskesmas dan juga para pegawai, termasuk bendahara puskesmas. Sehingga itu yang diduga, menjadi hal yang dianggap mengusik para pegawai pada Puskesmas tersebut.
“Karena saya dianggap tidak punya kewenangan untuk mengetahui itu. Padahal setelah saya cek, anggaran itu ada,”ungkapnya.
Pasca peristiwa penganiayaan itu, dirinya kemudian mendatangi Polres SBB untuk malaporkan apa yang dialaminya. Namun setelah pemeriksaan korban, saksi dan terduga pelaku empat bulan lalu, hingga kini, penanganan kasusnya belum ada perkembangan.
“Mala ketika saya mendatangi penyidik dengan tujuan mau menanyakan perkembangan kasusnya, saya mala diminta penyidik untuk mencabut perkara,”katanya.
Tidak hanya polisi, hal yang sama juga diminta sejumlah Anggota Komisi II DPRD SBB dalam rapat dengar pendapat, terkait kasus penganiayaan tersebut.
“Masalah ini juga menjadi perhatian DPRD, tapi sayangnya, saya mala diintimidasi, saya diminta untuk cabut perkara, alasan mereka, bahwa saya harus memikirkan rakyat dan memikirkan karir saya. Padahal yang saya laporkan, adalah murni tindak pidana penganiayaan yang saya alami,”ujarnya.
Terkait dengan itu, Kapolres SBB, AKBP. Bayu Butar Butar yang dihubungi melalui pesan whatsup, belum menanggapi. (S01)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Sosok