Spektrum

Bersama Membangun Negeri

Benarkah Politik Uang Warnai Musda Golkar Ambon?

Benarkah Politik Uang Warnai Musda Golkar Ambon?

IST

Isu politik uang dalam pemilihan Ketua DPD Golkar Kota Ambon diungkap. Masing-masing Ketua PK Golkar diberi uang Rp.5 juta untuk mengalihkan dukungan ke Ely Toisutta. Kasus ini kemudian dibongkar Petrus ‘Pemy’ Souisa.

AMBON, SPEKTRUM – Untuk mengejar ambisi di panggung politik, orang akan menghalalkan segala cara termasuk menjebak, menyebarkan berita bohong serta melegalkan politik uang. Cara – cara ini juga dipraktekkan saat Musyawarah Daerah atau Musda Partai Golkar Kota Ambon, yang berlangsung di Hotel Marina, beberapa waktu lalu.

Musda DPD Partai Golkar Kota Ambon digelar di Hotel Marina. Yusril AK Mahedar memimpin jalannya sidang. Sebelum musda digelar, lobi sudah dilakukan dua kandidat Ely Toisuta dan Max Siahay.

Petrus ‘Pemy’ Souisa Ketua PK Kecamatan Teluk Ambon kepada wartawan di Ambon, Sabtu (12/09), membongkar politik uang itu.  Dia mengaku dibohongi. Ditekan,  dipaksa untuk menerima uang agar dukungan yang awalnya telah disepakati diberikan kepada Max Siahay dialihkan kepada Elly Toisutta.

Souisa menjelaskan, pada tanggal 1 September 2020, dirinya dihubungi Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Ambon, Zeth Pormes. Dalam perbincangan tersebut, Pormes mengaku  Max Siahay belum punya ijazah sarjana, sebagai salah satu syarat pencalonan.

Pormes tambah Souissa berdalih Max Siahay akan gugur sebagai calon Ketua DPD I Partai Golkar Kota Ambon. “Pormes juga mengajak kami bergabung. Namun kami menolaknya dengan alasan akan membicarakan ulang masalah ini,” terangnya.

Pormes terus meyakinkan dia, jika Max Siahay akan digugurkan apapun resikonya.  Mendengar penjelasan Pormes, Souisa lantas memikirkan kelanjutan langkah yang akan diambil.

“Saya bimbang, namun saya belum memberikan kepastian dan berjanji akan bicarakan kembali,” kata Souisa. 

Tak hanya Pormes,  Klem Sembiring dan Neles Lakotani juga menelepon Souisa meminta mengalihkan dukungan ke Elly Toisutta. Hatinya akhirnya luluh.  “Saat bertemu dengan mereka, saya dikasih tahu nanti ketemu dengan Fadly kaki tangan Elly Toisuta di depan Masjid An’Nur,” tudingnya.

Saat bertemu Fadly, Souisa diajak bertemu dengan Elly Toisutta di kediamannya. Sebelum tiba di kediaman (Elly Toisuta), Souisa, sempat menghubungi Pormes.  Pormes, mengaku  lagi menjemput dua Ketua PK lainnya.

Setelah tiba di kediaman Elly, ia diminta  untuk menandatangani satu lembar surat yang dibuat tim pemenang (Elly Toisutta). Isinya mengalihkan dukungan dari Max Siahay ke Elly.

“Sampai di rumah ibu Elly Toisuta, kami disuruh tanda tangan surat yang dibuat timnya, yang isinya memberikan dukungan kepada Elly Toisuta. Saya merasa tersudut lantaran mereka banyak, tapi dengan cara halus saya sampaikan ke Pormes kalau saya tidak bawa cap, padahal cap ada di saku celana saya,” katanya.

Akhirnya, Pormes memaksa dirinya untuk mengambil cap di rumahnya dengan pengawalan dua unit mobil.  Akhirnya  terpaksa dan dibawa tekanan surat pengalihan dukungan tersebut ditanda tangan dan dibubuhi cap PK Golkar Teluk Ambon.

Kesempatan ini tidak disia-siakan Elly Toisutta, untuk setiap dukungan yang diperoleh, Elly Toisuta memberikan masing-masing Rp 5 juta. “Karena Ketua PK Leitimur Selatan tidak hadir maka uang Rp 5 juta bagiannya dititipkan ke Ketua PK Nusaniwe,” jelas Souissa.

Dari uang yang diberikan, Elly Toisuta, Souisa menyerahkan sebesar Rp 2 juta kepada Sekretaris PK Teluk Ambon dan sisanya dibagi habis bersama anggota PK lainnya.

“Tadinya saya berpikir kenapa harus saya tanda tangan, betul kalau di juklak O2 Partai Golkar, Max Siahay akan digugurkan dari sisi kepemilikan Ijazah sarjana, kalau nantinya dilakukan pemeriksaan berkas, tapi sebenarnya itu hanya persoalan teknis, karena belum diwisuda tapi secara akademik, dia sudah dinyatakan lulus,” katanya penuh penyesalan.

Souisa merasa dibohongi sebab secara tidak langsung melalui informasi sesat kalau Max Siahay akan digugurkan dalam proses pencalonan sebagai Ketua DPD II Golkar Ambon ternyata jebakan dan tipu muslihat saja.

Soulisa mengklaim, hal itu terbukti, saat Musda hendak berlangsung, Pormes dengan sigap maju menuju pimpinan Musda dan menyodorkan berkas pengalihan dukungan dari tiga PK kepada Elly Toisuta.

Akibatnya lewat pimpinan Musda menganulir dukungan hasil Steering Committee, dengan alasan akan dilakukan verifikasi ulang lantaran tiga kecamatan telah mengalih dukungannya.

Merasa telah dibohongi, lewat Musda yang sedang berjalan, Souisa dengan lantang membuka semua skenario yang dimainkan, Elly Toisuta bersama dengan Pormes sehingga akhirnya terjadi pengalihan dukungan kepada, Elly Toisuta yang menurut mereka sengaja dibuat.

Padahal sebelumnya lewat Steering Committee (SC) atau panitia pengarah DPD Golkar Kota Ambon, sebelum Musda, menyebut nama, Max Siahay sebagai calon kuat, pimpin DPD II Partai Golkar Kota Ambon dengan perolehan 30 persen suara yang didukung 5 PK dan AMPG sedangkan Elly Toisuta hanya didukung Kosgoro dan satu sayap Golkar lainnya.

“Sepertinya sudah disetting siapa yang harus menjadi pimpinan Golkar Ambon, karena ada campur tangan Walikota Ambon padahal katanya DPD II Ambon abstein dan lebih memilih ditengah, padahal main belakang layar,” katanya.

Soal statusnya sebagai tenaga kontrak di Pemkot Ambon, Souissa menjelaskan, dalam Perwali sudah jelas tertera, tenaga kontrak tidak ada hubungan dengan ASN.

“Anehnya, sehari sebelum Musda, Ketua DPD Golkar yang juga Walikota telepon saya dan tanya soal dukungan. Saya jawab, Teluk Ambon dukung Max Siahay, pak Wali kembali bertanya kenapa harus pilih Max dan kenapa tidak pilih Elly, hati-hati kalau ibu Elly itu Ketua DPRD Kota Ambon, apalagi kamu ini masih tenaga kontrak, saya pun menjawab siap dengan konsukuensi apapun,” bebernya.

Secara pribadi, Souisa merasa kecewa dengan sikap Pormes yang juga anggota DPRD Kota Ambon, perwakilkan dapil Kecamatan Teluk Ambon, harusnya memberikan pemahaman dan pendidikan politik yang baik, kepada kader muda Golkar di PK Teluk Ambon. Bukan sebaliknya menempuh cara-cara politik yang tidak mendidik.

“Saya berpikir semestinya, Zeth Pormes, memberikan pendidikan politik yang baik buat kita (kader-kader muda), kasihan kami sangat malu dengan cara-cara yang dilakukan Zeth Pormes. Bicara komitmen mari kita bicara yang baik, tapi ini semacam pembohongan politik bagi kader-kader baru Golkar, ” kesalnya.

Sementara itu, soal dugaan adanya politik uang dalam Musda Golkar Kota Ambon, Elly Toisutta yang coba dihubungi wartawan belum mau memberikan keterangan. “No comment,” kata Elly Toisutta singkat melalui pesan Whatsappnya. (S-16)

Pin It on Pinterest