Connect with us

Metropolis

Pengurus MUI Maluku tak Boleh Lobi Jabatan

AMBON, SPEKTRUM – Wacana lobi jabatan Kepala Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku diduga dilakukan beberapa oknum Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku, kini menuai polemik.

Ustadz Abu Imam Rumbara, juga salah satu Pengurus MUI Maluku kepada wartawan Minggu malam (5/7/2020), mengingatkan para Pengurus MUI Maluku untuk mengimplementasikan titah perjuangan, bukan dengan cara melobi jabatan untuk kandidat tertentu yang ikut seleksi jabatan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Provinsi Maluku.

Langkah Pengurus MUI Maluku harus sesuai titah perjuangan. Persoalan keumatan mestinya jadi skala prioritas. Abu Imam tidak setuju, jika benar jabatan Kakanwil Kemenag Maluku, diperjuangkan oknum pengurus MUI Maluku.

“Bila wacana tersebut benar, saya tidak setuju dengan yang dilakukan. Sebab ada hal penting untuk diperjuangkan. Kalau datang lobi jabatan demikian, maaf-maaf saja, sikap ulama tidak demikian,” tegasnya.

Abu Imam mengemukakan setiap agenda MUI, pasti melalui pembahasan. Namun untuk agenda kunjungan beberapa orang pengurus MUI Maluku ke Jakarta, dia tidak mengetahuinya.

“Sebelum mereka berangkat ke Jakarta ada pertemuan. Hanya saja saat itu saya tidak ikut. Jadi saya tidak tahu apa yang mereka bahasbdalam pertemuan tersebut,” ungkapnya.

Abu Imam mengaku kaget setelah mendengar kabar dari media massa tebtang ihwal ada pengurus MUI Maluku melakukan kunjungan ke Jakarta melobi Menteri Agama untuk meloloskan salah satu kandidat KKanwil Kemenag Maluku.

“Setelah mereka ke Jakarta ada kabar dari media massa tentu membuat kami kaget. Sebab, keberangkan mereka ke jakarta, kami tidak terlibat. Agak tendensius tentang lobi jabatan Kakanwil. Tapi Ketua dan Sekretaris MUI sudah mengklarifikasikan bahwa itu adalah agenda keumatan,” tuturnya.

Yang dipahaminya tentang MUI, hanya mengawal kegiatan keumatan. “Misalnya kasus saudara kita, salah satu mantan raja yang meninggal di Ambon, kemudian jenazahnya disetop di jalan. Begitupun persoalan statmen Rektor UKIM tentang Waihaong dalam kasus Covid-19. Nah, masalah seperti ini mestinya ada MUI disini, sebab ini masalah keumatan. Bukan sebaliknya berada di luar (titah perjuangan,” tegas Ustadz Abu Imam.

Harapannya, para pengurus MUI Maluku yang saat ini berada di Jakarta, agar secepatnya kembali untuk mengagendakan pertemuan sekaligus meluruskan titah perjuangan MUI yang sebenarnya.

Selain itu, Abu Imam pun menganjurkan, agar MUI Maluku tetap berada dan berdiri netral, tidak memihak kepada siapapun kandidat Kakanwil Kemenag Maluku.

Menuurtnya, hal ini penting demi menjaga hubungan kerja sama kedepan dengan baik. “Bagaimana bila yang diperjuangkan itu kalah, lalu yang menang bukan yang diperjuangkan? bagaimana kerjasama MUI dengan Kemenag Maluku nanti? Kita berharap MUI Maluku harus netral, tidak perlu terlibat dalam masalah seperti ini, karena tidak penting,” tandasnya. (S-14)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metropolis