Connect with us

Peristiwa

Rutong dan Rumahkay Panas Gandong

AMBON, SPEKTRUM – Dua Negeri adat di Maluku, yaitu Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, dan Negeri Rumahkay, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), menggelar ritual panas gandong.

Rangkaian acara adat dua negeri itu akan berlangsung selama 4 hari, sejak18-21 Maret 2020, di Negeri Rutong, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Maluku.

Acara dengan ritual adat ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan kedua Negeri yang terikat dalam satu gandong/kandung (persaudaraan satu kandung-atau hubungan saudara dalam adat Maluku).

Ritual Panas Gandong sendiri merupakan seremoni adat yang biasanya dilakukan antara dua atau lebih negeri adat di Maluku. Selain untuk mempererat persaudaraan, ritual ini juga bertujuan untuk menghangatkan kembali relasi orang sodara, yang percaya leluhur mereka berasal dari gandong/kandung yang sama.

Dalam relasi gandong, warga Negeri Rutong merupakan ade/adik dari warga Negeri Rumahkay.

Sesuai jadwal, ritual adat dimulai dengan perjalanan gandong kakak dari Rumahkay menuju Negeri Rutong melalui jalur laut. Gandong kakak Rumahkay selanjutnya menyinggahi Tanjung Hutumuri untuk kemudian menuju kolam Sapaloa yang terletak dipesisir pantai Negeri Rutong untuk melakukan ritual adat.

Dan selanjutnya dilakukan penyambutan oleh Ade/adik Negeri rutong terhadap sekitar 1.470 gandong/kandung kakak dari Negeri Rumahkay di pantai Rajuno Hatupory dan selanjutnya menuju Baileo/rumah adat Negeri Rutong.
Pada kesempatan itu, juga dilakuka. peresmian Monumen Amalopu yang berdekatan dengan rumah adat.

Terkait kegiatan tersebut, Raja Negeri Rutong, Reza Maspaitella menjelaskan, bahwa kegiatan dimaksud, adalah bagian dari penjabaran dari sejarah dua Negeri, sejak beberapa tahun lalu, saudara/gandong dari Negeri Rumahkay datang ke Negeri Rutong, sehingga pada 1939, Raja Negeri Rutong yang saat itu Piter Maspaitella, telah mengusulkan agar sejarah ini dikemas agar anak cucu dapat mengetahui sejarah dari dua Negeri itu sendiri.

“Dan hari ini, Negeri Rutong menyambut kedatangan gandong kakak dari Rumakay. Yang mana kegiatan ini akan berjalan selama 4 hari yang akan diisi dengan berbagai kegiatan yang bertujuan unuk mempererat hubungan kedua Negeri,”jelas Raja.

Melalui kegiatan adat tersebut, Raja berharap, fondasi landasan kasih yang telah diterapkan oleh tete nenek moyang (leluhur) selama ini bisa dapat hidup dalam kedua Negeri, sehingga dengan dasar kasih ini, akan berdampak bagi pembangunan, baik fisik maupun SDM.

“Mengingat ini adalah lambang hubungan dari dua kakak beradik yang memiliki arti sebuah hubungan kasih. Sehingga saya berharap landasan kasih ini kita bisa bagikan sebagai contoh, bukan hanya Maluku, tetapi juga indonesia. Dari Maluku untuk Indonesia.

Sementara Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Ambon, Rico Hayat mengaku memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang merealisasikan dua Negeri yang nilai historisnya luar biasa dan perlu dilestarikan.

“Selain Ambon sudah ditetapkan sebagai kota musik dunia, kita juga akan melestarika budaya budaya yang ada di Kota Ambon.

Dikatakan, kegiatan yang memiliki nilai penting dan strategis bagi upaya untuk kembali mengangkat wibawa dan eksistensi negeri adat, pelestarian budaya, dan kearifan lokal, bagi masyarakat kota Ambon akan dididukung penuh.

Mengingat perkembangan zaman dan teknologi yang semakin modern, seringkali membawa kecenderungan masyarakat melupakan nilai – nilai budaya adat istiadat serta kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

“Salah satu kearifan lokal itu adalah budaya gandong yang merupakan sistem hubungan kekerabatan adik – kakak antar dua negeri atau lebih, dari satu kandung (gandong), atau garis keturunan yang sama, yang memperbaharui ikatan di tiap generasi dengan acara panas gandong,”ulasnya.

Menurutnya, tidak jarang sebagai anak negeri, yang telah lama keluar dari negeri, juga tidak mengetahui dimana negeri yang menjadi negeri gandong.

Harapannya, dengan adanya panas gandong antara dua negeri ini, akan menjadi suatu contoh untuk dapat juga diimplementasikan oleh negeri negeri adat lainnya, baik itu dalam ikatan gadong maupun ikatan pela dalam rangka meningkatkan hubungan yang rukun, toleran, selaras, serasi serta harmonis.

Implementasi, budaya gandong antar negeri rutong dan Rumahkay, diharapkan akan membawa dampak positif bagi pengembangan kualitas sumberdaya manusia kedua negeri.

β€œSerta menjadi suatu kegiatan yang bernilai positif bagi seluruh anak cucu negeri Rutong dan rumahkay, baik yang ada di negeri maupun di tanah rantau. Untuk dapat memberikan sumbangsih bagi pembangunan daerah asalnya masing – masing,”harap Richard. (S-01)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Peristiwa