Connect with us

Selamat Pagi

Gizi Kronis Mengancam Balita

Setiap orang tua pasti menginginkan anak anaknya tumbuh dan berkembang hingga bisa mengagapi cita cita serta masa depan. Namun ada saja hambatan dalam lika liku kehidupan. Ini soal pemenuhan kebutuhan keseharian. Faktor kekurangan gizi hingga gizi kronis atau stunting tengah dewasa ini masih mengancam generasi bangsa utamanya balita di wilayah Maluku khususnya di kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Ivonne Weflaar

Pemenuhan atau pelayanan kesehatan terhadap warga negara utamanya para anak (balita), menjadi tanggungjawab negara. Pemenuhan kesehatan itu telah diamanatkan melalui konstitusi. Namun problem kesehatan masih sulit diatasi.

Kasus gizi kronis atau stunting, sampai sekarang masih merajalela di Indonesia. Di Provinsi Maluku kasus stunting masih ramai dan mudah untuk ditemukan. Salah satunya di wilayah Kabupaten SBT. Angka pengidap atau penderita gizi kronis masih tinggi di sana. Para anak yang terserang gizi kronis di SBT, notabenenya mereka yang berdomisili di desa atau kecamatan yang masih terisolir atau sulit dijangkau.

Pemberantasan stunting masih sulit dilakukan. Angka penderita gizi buruk pun tiap saat bertambah. Dalam ilmu kedokteran stunting didiagnosa, tiap pengidapnya mengalami kondisi gagal tumbuh. Penyakit ini biasanya menyerang balita akibat mengalami gizi buruk, serta terkena infeksi berulang, dan stimulasi psikososialnya tidak memadai.

Para pakar nutrisi dan penyakit metabolik anak, menerawang dimana dampak stunting itu bukan sekadar tinggi badan anak saja, tetapi juga soal pertumbuhan otak, saat anak beranjak besar, justru tidak bisa diobati lagi.

Gentingnya stunting tentunya mengasa otak penyelenggara negara (pemerintah) di pusat hingga daerah dituntut untuk memberikan solusi konkret guna menyelesaikan problem krusial ini.

Dalam dunia kesehatan trennya ada tiga langkah untuk meminimalisir munculnya stunting, yakni melakukan penyuluhan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya gizi seimbang, mendeteksi secara dini jika ada bayi atau ibu hamil mengalami kekurangan gizi, serta memberikan treatment dengan segera dan tepat.

Sebagaian kalangan berasumsi bahwa dalam pemberantsan stunting, tidak hanya harus jadi perhatian pelaku sektor kesehatan. Tetapi sdektor ketersediaan pangan, harga pangan terjangkau, dan lapangan kerja untuk mencukupi kebutuhan hidup harus diperhatikan. Konteks ini tentunya pemerintah berada di garda terdepan untuk melakkukannya.

Untuk melahirkan generasi bebas stunting, maka sejak dini para remaja perempuan harus diberikan asupan gizi yang baik. Tidak hanya dari aspek kesehatan, peningkatan peran perempuan dalam ekonomi keluarga dan pengasuhan anak juga penting. sebab, jika perempuan memiliki posisi ekonomi baik dalam keluarga, tentu daya tawar mereka pun akan lebih baik.

Begitu pula dalam penentuan belanja keluarga. Perempuan diharapkan bisa mengutamakan gizi anak atau balita dalam belanja keluarga.

Harapannya, pemerintah pusat dan daerah khususnya lagi Pemda Kabupaten SBT bisa fokus melakukan program tentunya dapat mengatasi masalah stunting yang saat ini masih menyerang para balita di bumi Ita Wotu Nusa tersebut. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Selamat Pagi

  • Wujudkan Pilkada Berkualitas

    Di Indonesia ide untuk membentuk sistem pemerintahan yang demokratis telah ada sejak berdirinya Republik...

  • Kebocoran Anggaran

    Penyelewengan anggaran negara dan daerah nyaris sering terjadi di setiap pelaksanaan paket proyek milik...

  • Bobolnya BNI

    Pembobolan Bank Negara Indonesia (BNI) 46 Cabang Utama Ambon merupakan kejahatan terorganisr (fraud). Sampai...

  • Safitri Lawan Kotak Kosong?

    Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serenak tahun 2020 tahapannya tengah berporses. Sejumlah bakal calon kepala...